hiupiuuu

Istirahat pertama telah tiba, Aeris memutuskan untuk pergi ke minimarket depan sekolah hendak membeli permen pelega tenggorokan yang tidak ada di kantin.

Selama di kelas tadi ia berkali-kali batu karena tenggorokannya gatal.

“Mau kemana neng,” sapa seseorang laki-laki yang sudah ada di sampingnya.

Laki-laki itu janari, pria yang paling aneh sedunia yang hidupnya santai dan terlihat tidak punya masalah.

“Catcalling.”

Janari yang dituduh tidak terima, “Apaan, orang nanya doang.”

“Ya kan orang yang catcalling juga nyapa,” balas Aeris tidak terima.

“Catcalling tuh gini, suit.. suit.. neng cantik, mau kemana neng,” ucap Janari mencontohkan sambil bersiul.

Aeris hanya menggelengkan kepalanya, “pake dicontohin lagi,” ucapnya yang kemudian meninggalkan Janari.

Janari menyusul, “Mau kemana sih?” tanyanya lagi ketika langkahnya beriringan dengan Aeris.

“Minimarket.”

“Sama gue juga.”

“Mau beli apa?”

“Pembalut,” jawab Aeris asal.

Janari melongo kaget, “Hah?” “Bercanda, muka lo,” ucap Aeris disertai kekehan melihat wajah cengo dan syok itu.

Janari mengembalikan mimik wajahnya, “Ya lagian jawaban lo enteng bet, pembalut.”

“Lo bocor?” tambanya melirik rok Aeris. Aeris menutupi, “Ish becanda Janari!” ucap Aeris sambil memukul lengan Janari.

Janari mengusap lengannya yang dipukul lalu berkata, “Ya gue juga becanda,” kekehnya yang membuat Aeris kesal.

Setelah beberapa kali gagal jalan bersama Aeris karena waktu itu Aeris tiba-tiba membatalkanya dan akhirnya sekarang beneran mereka nonton.

“Mau nonton apa?” tanya Janari ketika keduanya sudah sampai.

“Apa aja,” jawab Aeris tidak semangat.

Sejujurnya ia malas keluar rumah hari ini, namun ia merasa tidak enak dengan Janari karena menunda-nunda waktunya nonton. Ia tidak mau punya hutang jadi yaudahlah.

“Lo suka film apa?”

“Semua suka kok kecuali horror.”

“Oh yaudah kita nonton film horror aja,” ujar Janari yang membuat Aeris melotot tidak habis pikir.

“Jan!” gertaknya.

“Becanda,” ucap janari bersama kekehannya.

Janari melihat-lihat film yang sedang tayang, “Yaudah spidermen aja ya,”putusnya.

Aeris hanya menganggukkan kepalanya.

Mereka menonton spidermen no way home yang baru saja rilis baru baru ini.

Setelah memesan tiket juga popcorn keduanya masuk ke dalam bioskop.

“Gimana filmnya?” tanya Aeris.

Mereka berdua sudah keluar dari bioskop.

“Seru,” ledek Janari karena di dalam tadi bukannya menonton Aeris malah tertidur.

“Enak ya tidur di bioskop,” candanya.

“Gue tuh ngantuk jan,” balas Aeris.

“Lo laper ga?”

“Langsung pulang aja lah,” jawab aeris namun berbeda dengan ucapanya perut Aeris berbunyi.

“kruyuk.. kruyuk..” (anggap aja suara perut bunyi)

“Perut lo bunyi, makan dulu yuk,” ajaknya kembali berjalan mendahului Aeris.

Dan Aeris hanya pasrah mengikutinya di belakang.

Selepas rapat OSIS selesai Aeris, Resha dan Hana keluar dari ruangan dan bertemu Valen berdiri di depan ruang OSIS.

“Eh, Genta mana?” tanya Valen.

“Di dalem,” jawab Aeris santai.

“Makasih,” ucapnya dan masuk dalam ruangan yang masih tersisa Genta dan Melvin.

“Lo duluan aja Han, Res, gue ada yg ketinggalan keknya,” ucapnya yang diangguki kedua temannya.

Aeris masih berdiri di depan ruang OSIS, sebenarnya tidak ada yang ketinggalan, ia hanya penasaran dengan Valen.

“Taa,” rengek Valen memanggil Genta.

“Anterin gue pulang dong,” pintanya yang masih bisa Aeris dengar.

“Lo dari tadi belum pulang?” tanya Melvin heran.

“Gue daritadi nungguin lo ta,” jelasnya.

“Ngapain nungguin Genta, pulang pulang aja kali,” sindir Melvin.

“Taa, please anterin yaa,” mohon Valen dengan mata penuh harap.

“Papah gue ga jemput, Lo kan tau gue buta arah,” jelasnya.

“Gojek bisa kali,” sahut Melvin.

“Taa,” pintanya.

“Iya,” jawab Genta yang membuat Valen kesenangan.

“Taa,” Melvin kesal dengan Genta.

“Gapapa Vin,” ucap Genta menenangkan Melvin.

“Yuk Len,” ajaknya.

Langkah Genta hendak keluar ruangan dan Aeris buru-buru meninggalkan tempatnya daritadi berdiri.

Setelah mendapat pesan dari Genta, Aeris menuju ke ruang OSIS. Hubungannya dengan Genta baik baik saja.

Di dalam ruang OSIS hanya ada Genta sendirian, karena jam menunjukkan waktu istirahat dan anggota OSIS lainnya pasti sedang mengisi perutnya di kantin.

Aeris menghampiri Genta. “Mana?” tanya Aeris yang langsung dimengerti oleh Genta.

Genta mengeluarkan kantung plastik berisi semangka. Mata Aeris berbinar-binar melihatnya.

Aeris mengambilnya, duduk di hadapan Genta dan memakannya.

Genta memperhatikan Aeris yang langsung memakannya, “Gimana?” Tanya Genta.

Aeris yang sedang mengunyah melihat Genta seolah bertanya, “Apa?”

“Semangkanya.”

“Always enak,” balasnya “Lo mau?” tawar Aeris menusuk sepotong semangka dan menyodorkannya didepan mulut Genta.

“Aaa”

Genta memakannya.

Pada saat yang sama diluar Valen berjalan melewati ruang OSIS yang pintunya terbuka lebar. Ia melihat Aeris dan Genta didalamnya.

Dengan raut wajah kesal ia menghentakkan kakinya dan meninggalkan ruang OSIS.

“Ai,” panggil Genta

“Lo cantik.”

Aeris kaget, “Hah, apa taa?” tanyanya memastikan apa yang ia dengar.

Genta malu, ia kira ia berbicara dalam hati tapi malah terdengar Aeris “Hah, gue ngomong apa tadi?” tanya Genta pura-pura.

Dan bel masuk berbunyi membuat keduanya melupakan apa yang terjadi.

Aeris menunggu Genta sambil bertanya kepadanya melalui chat.

Aeris menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah pintu.

“Tumben pagi,” ledek Genta yang baru saja tiba.

Aeris hanya tersenyum melihat Genta yang wajahnya masih pucat dan terlihat lelah namun ia tutupi dengan senyumnya.

“Lo masih sakit?” tanya Aeris.

“Udah baikan kok,” jawabnya.

Genta membuka gembok itu dan pintu terbuka.

Genta memasuki ruang OSIS diikuti Aeris dibelakangnya.

“Oh iya lo mau apa pagi pagi ke ruang OSIS?” tanya Genta.

Aeris terdiam pasalnya ia ke ruang OSIS hanya ingin melihat Genta, dan sekarang ia bingung hendak menjawab apa.

“Lo udah sarapan?” sebuah pertanyaan itu malah yang keluar dari mulut Aeris.

Genta menggelengkan kepalanya.

“Ish lo tuh sakit, sarapan dulu.” Aeris mengeluarkan kotak bekal yang sebenarnya untuk dirinya sendiri dari dalam tasnya.

“Nih,” Aeris menyerahkan kotak bekal itu pada Genta.

“Lo yang buat?” tanya Genta menerima kotak itu.

“Bukan, mamah gue yang buat,” jawab Aeris jujur.

Genta membuka kotak yang diberikan Aeris. Isinya dua potong sandwich.

Genta menarik kursi begitupun Aeris duduk didepannya.

“Lo sendiri udah sarapan?” tanya Genta.

“Udah kok,” balas Aeris.

“Morning everybody,” teriakan Yaksa mengagetkan memasuki ruang OSIS di susul dengan Melvin.

“Taa, buat lo nih,” Yaksa menyodorkan sebuah roti dan air mineral.

“Dari siapa?”

“Fans lo lah, tadi di depan, ada suratnya juga.”

Yaksa menyimpannya di hadapan Genta. Aeris sempat melirik notes di atas roti itu.

To: Kak Genta Kemarin kakak sakit ya? Ini buat kakak dimakan ya kak rotinya. Semoga cepat sembuh ya kak.

“Buat lo aja, gue ada nih,” Genta melirik sandwich di kotak bekal yang sudah terbuka.

Genta memberi roti tersebut pada Yaksa. memakan sandwich.

“Gue duluan ya taa, udah mau bel,” pamit Aeris.

“Yaudah, makasih ya ai.”

Selepas meninggalkan papahnya, Genta membawa motornya dengan kecepatan penuh menuju sebuah rumah sakit.

Mamah Genta, sakit parah. Ia mengidap gangguan kejiwaan, skizofrenia.

Tepatnya dua tahun lalu, mamahnya berantem dengan papahnya karena ada orang ketiga dalam rumah tangganya.

Papah pergi meninggalkan Genta dan mamahnya. Mamah Genta terpuruk sampai akhirnya ia mengidap skizofrenia.

Genta marah, Genta benci namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena papahnya yang membiayai semua pengobatan mamahnya.

Sekarang penyakit itu semakin parah, mamanya harus di rawat di rumah sakit karena butuh penanganan yang serius. Mamahnya semakin tidak terkendali.

“Mahh,” Genta memegang tangan wanita yang tengah tertidur itu.

“Papah jahat mahh,” ujarnya lirih.

Genta mengangkat tangan wanita yang lemah itu, menciumnya dengan penuh harap.

“Mah, mamah harus sembuh ya, demi Genta,” pinta Genta.

“Mahh Genta capek mah,” ujarnya lirih,.

Gentan menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya. Hingga ia tertidur disamping mamahnya.

Pukul 7 malam dengan rasa malas Genta tetap menuruti perintah papahnya untuk datang ke sebuah restoran.

Didalam ruangan itu sudah ada papahnya, seorang wanita yang Genta kenal sebagai mamah Janari, juga Janari.

Genta melihat papahnya tersenyum bahagia memasangkan cincin di jari mamah Janari.

“Pahh,” panggil Genta dengan lirih namun matanya menyiaratkan kemarahan.

Papah Genta menoleh melihat anak semata wayangnya berdiri tak jauh darinya.

Belum sempat menyapa, Genta meninggalkan restoran itu.

“Taa,” panggil Janari menyusul Genta.

Genta marah, Genta benci papahnya. Sejak mamahnya jatuh sakit keluarganya berantakan.

Papahnya meninggalkan apartemen yang mereka tinggali.

Dan dugaan Genta selama ini benar bahwa papahnya dan mamah Janari memiliki hubungan.

Genta sempat melihat papah bersama maamahnya Janari berduaan dan berpegangan tangan. Namun waktu itu Genta memaklumi karena papahnya selalu bilang bahwa mamah Janari adalah sahabatnya. Namun malam ini ia tidak lagi percaya papahnya. Ia membenci papahnya.

“Genta,” panggil Janari.

“Taaa, tunggu ta,” janari menghentikan langkah Genta.

“Bugh, bugh...” Genta memukul Janari.

“Taa, gue..” Janari mencoba menjelaskan namun ia kembali dihajar Genta.

“Gue benci sama lo,” pukulnya membuat sudut bibir Janari berdarah.

“Gue bisa jelasin taa,” ucap Janari mencoba menenangkan Genta.

“Jelasin apa Jan?”

“Jelasin kalo papah gue mau menikah sama mamah lo?”

“Jan mamah gue masih hidup, dan sekarang lagi sakit,” ucapnya marah.

“Keluarga lo berengsek, mamah lo perusak hubungan orang,” tambah Genta.

Janari tidak terima mamahnya direndahkan. Ia memukul Genta dan membuat sudut bibir Genta juga berdarah.

“Genta, cukup,” lerai papah Genta menghampiri keduanya yang berada di luar restoran.

Genta pergi meninggalkan papahnya bersama Janari dengan segala kekecewaan yang berkecamuk dalam dirinya.

Setelah sempat menolak ajakan Genta yang berujung ikut bersamanya naik motor Genta.

“Lo kenapa?” tanya Genta.

“Gapapa,” jawab Aeris sekenanya.

“Gapapa kok mukanya bete gitu,” Genta melihatnya dari pantulan cermin spion motornya.

“Gapapa Genta.”

Aeris hanya bengong selama perjalanan. Moodnya hancur ga tau kenapa sehingga ia tidak menyadari bahwa jalan yang ia lewati bukan menuju ke rumahnya melainkan ke alun-alun.

“Eh kok kesini,” ujarnya ketika sadar motor Genta berhenti di festival jajanan di alun alun.

“Gue laper,” jawab Genta. “jajan dulu ya.”

Aeris turun dari motor Genta dan keduanya berjalan menelusuri jajanan yang sudah berjejer seputar alun-alun.

“Lo mau beli ga?”

“Ga, gue ga laper.”

“Yaudah yuk cari semangka.” ucap Genta memancing Aeris agar moodnya kembali.

“Emang ada?” tanya Aeris malas.

“Ga ada kayaknya,” sahut Genta.

“Ish ngapain ngomong kalo ga ada.”

“Yaudah cari dulu, siapa tahu ada,” ucap Genta optimis.

Dan pada akhirnya Aeris dan Genta tidak menemukan penjual semangka di sini dan mereka hanya membeli jajanan berawalan huruf C yaitu cimol, cireng, cilung dan cilor.

Didepan ruang OSIS sudah berkumpul Genta, Andini, Yaksa dan Aeris. Keempatnya hendak menuju ke SMA Nusantara ingin berdiskusi dengan OSIS SMA Nusantara terkait turnamen yang akan diselenggarakan.

Setiap satu tahun sekali sekolah mengadakan turnamen yang diikuti oleh beberapa sekolah. Dan tahun ini turnamen rencananya akan diselenggarakan di SMA NEOCITY.

“Genta,” panggil Andini ketika keempatnya sudah sampai diparkiran sekolah.

“Gue sama lo ya,” ucapnya.

Genta melirik Aeris yang diam di sebelah Yaksa.

“Tapi Aeris,” jawabnya yang membuat Aeris menatap Genta.

“Gue sama Yaksa aja,” ucap Aeris santai.

Namun muka Aeris tidak bisa bohong kalau ia sedang bete. Entahlah mood Aeris tiba-tiba anjlok.

Aeris naik diboncengan Yaksa dan keempatnya berangkat.


Sesampainya di SMA Nusantara mereka disambut oleh OSIS SMA Nusantara.

“Hai taa,” ucap Farhan yang Genta kenal ia adalah ketua OSIS SMA Nusantara.

Genta menyambut uluran tangan Farhan, kemudian menyodorkan tangannya pada Andini. “Farhan.”

Andini menyambutnya, “Andini.”

“Farhan.”

“Yaksa.”

Terakhir Farhan mengulurkan tangannya pada perempuan cantik di sebelah Yaksa.

“Farhan.”

“Aeris.”

“Namanya cantik, kayak orangnya,” rayunya. Aeris hanya tersenyum dan Farhan enggan melepaskan tangannya dengan Aeris.

“Ekhemm,” dehem Genta yang membuat Aeris menarik tangannya.

“Eh sorry, tangan lo nyaman soalnya,” ucap Farhan.

“Yuk kita ke ruang OSIS aja,” ajaknya.

Setelah berdiskusi terkait cabang olahraga yang akan diselenggarakan. Farhan menghampiri Aeris yang masih mencatat hasil diskusi ini.

“Sorry ya AC nya lagi mati,” jelas Farhan yang sedari tadi memperhatikan Aeris kegerahan.

“Ris,boleh minta kontak lo ga?” tanyanya.

“Buat apa?” jawab Aeris.

“Takut nanti ada info lagi kan gue bisa chat lo,” ucapnya.

“Kan bisa tanya Genta,” balas Aeris.

“Tapi lo sekertaris kan?” tanya Farhan lagi yang dijawab dengan anggukan Aeris.

“Takut gue ada perlu sama lo,” jelasnya menyodorkan hpnya pada Aeris.

“Oh gitu ya.” Aeris menuliskan nomornya pada hp Farhan.


Setelah selesai keempatnya memutuskan untuk pulang.

“Taa, gue duluan ya,” ucap Andini ketika mereka di parkiran.

“Bokap gue ada di deket sini,” jelasnya.

“Oh yaudah,” balas Genta.

“Aeris, Yaksa gue duluan ya,” Andini mulai meninggalkan mereka bertiga

“Ai gue anterin pulang ya?” tawar Genta yang diabaikan Aeris.

“Yaksa, lo bisa anterin gue ga,” pinta Aeris.

Yaksa menatap Genta yang menatapnya tajam.

“Ga bisa Ris, gue abis ini mau jemput nyokap gue.”

“Udah sama gue aja,” ajak Genta lagi.

“Yuk.”

Setelah suara adzan berhenti berkumandang, keluarga Aeris dan juga Genta hendak melaksanakan sholat.

“Genta,” panggil papah Aeris.

“Ya Om,” jawabnya.

“Bisa jadi imam kan?” tanya papah Aeris.

“Bisa Om,” jawab Genta lagi.

“Imamin ya,” pintanya.

Genta mengangguk mantap, kemudian maju ke depan menjadi imam.

Sholat Maghrib di penghujung sore itu menjadi momen terindah untuk Genta. Semenjak mamah Genta dirawat di rumah sakit, ia tidak pernah sholat berjamaah bersama keluarga.

Keluarganya hancur berantakan, rumah yang dulunya jadi tempat pulang paling nyaman sekarang jadi seonggok ruangan tak bernyawa.

Lantunan surat yang di lafalkan Genta begitu indah. Juga rukun demi rukun ia lakukan dengan khusyu.

Setelah melaksanakan sholat maghrib Genta duduk bersama Aeris dan papah Aeris di ruang tamu.

“Kamu belum mandi Ai?” tanya papah Aeris yang melihat Aeris masih mengenakan seragam.

Aeris menggelengkan kepalanya.

“Mandi dulu sana,” ujarnya.

Aeris tak bergeming, ia masih di tempatnya, duduk di ruang tamu bersama Genta juga.

“Nanti pah, ini Genta mau langsung pulang kan?” tanyanya.

“Nanti, papah mau ngobrol dulu sama Genta,” ujar papahnya

“Kamu sana mandi,” suruhnya.

“Pahh,” rengek Aeris dengan mata memohon biarin Genta pulang.

“Mandi Aeris,” ucap papah Aeris lagi. Aeris menatap Genta yang dibalas dengan anggukan seakan mengatakan “Gapapa Ris.”

“Jangan tanya aneh-aneh,” ucap Aeris “Genta tuh cuma temen pah,” lanjutnya lagi.

“Iya Ngga,” jawab papah Aeris

Namun melihat anaknya itu masih ditempatnya papahnya berkata lagi, “Aeris.”

“Iya iya Aeris mandi,” ucap Aeris meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.

Selepas Aeris pergi, papah Aeris mulai mengeksekusi Genta.

“Udah punya KTP?” tanya papah Aeris serius yang membuat Genta sedikit takut.

“Belum Om,” jawab Genta

“Oke baiklah, nama lengkap siapa?” tanyanya.

“Magenta Pijar Om,” jawab Genta.

“Tanggal lahir?”

“21 Februari 2005.”

“Nama orang tua?”