Papah
“Siapa Ris?” tanya papah Aeris yang sudah berdiri di dekatnya.
Genta membuka helmnya dan turun dari motor. Memberi salam pada papahnya Aeris.
“Saya Genta Om,” ucap Genta menjabat tangan papah Aeris.
“Siapa?” tanya papah Aeris dengan mata menajam menatap Aeris.
“Temen pah,” jawab Aeris takut melihat papahnya. “Udah yuk pah masuk,” ajak Aeris.
“Genta gue duluan ya,” ucapnya. “Makasih udah nganterin,” tambahnya.
Aeris menggandeng lengan papahnya mengajaknya masuk, namun papahnya tidak bergeming.
“Ga diajak mampir dulu?” tanya papah Aeris.
“Udah sore pah, nanti Genta kemaleman sampe rumahnya.”
“Mampir dulu ya,” tawar papah Aeris namun lebih tepatnya perintah.
“Pah udah sore,” ucap Aeris was-was melihat gelagat papahnya.
Pasalnya Aeris takut Genta ditanya macam-macam sama papahnya.
“Iya om udah sore lain kali aja ya,” tolak Genta sopan.
“Udah mau maghrib loh,” ucap papah Aeris melihat alroji di tangannya. “Keburu sholat di rumah?” tanyanya.
“Bisa mampir ke masjid kok Om,” jawab Genta.
“Mampir sini ajalah sekalian,” balas papah Aeris.
“Yuk masuk,” Ajaknya.
Genta tidak punya pilihan selain menuruti apa kata papahnya Aeris itu.
Satu kata yang Genta rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki masuk dalam rumah Aeris.
Sederhana
Ya, rumah Aeris sederhana dan nyaman. Nuansa putih dan cream yang mendominasi seluruh ruangan itu membuat kesan rumah ini penuh dengan kehangatan.
Sangat berbeda dengan kondisi rumahnya yang mungkin sekarang tidak bisa ia sebut sebagai rumah, karena penghuninya sudah tidak ada.
Genta yang memasuki rumah Aeris disambut hangat oleh mamahnya Aeris. “Siapa pah?” tanya mamah Aeris menyambut kepulangan suaminya itu. “Temen Aeris mah,” jawab papah Aeris.
Genta menjabat tangan mamah Aeris, “Genta tante,” ucapnya berkenalan.
Tepat saat itu adzan berkumandang.
“Sholat jama'ah ya,” ucap papah Aeris.
Aeris yang sedari tadi diam mengkhawatirkan segala hal akan apa yang papahnya lakukan pada Genta. Karena selama ini belum pernah ia membawa teman laki-laki ke rumah.