hiupiuuu

Sudah seminggu genta tidak masuk sekolah, Aeris sulit menghubunginya, sehingga ia memutuskan untuk ke apartemen Genta bersama melvin.

Sesampainya di dalam apartemen Genta, sudah ada papah Genta, seorang wanita yang Aeris tidak kenal dan juga valen.

“Sejak kapan Valen disini,” ucap Aeris dalam hati.

“Genta, diatas tidak mau ditemui siapa-siapa, kamu coba aja ke atas Vin, siapa tahu dia mau buka pintunya,” ucap papah Genta.

Melvin naik ke atas diikuti Aeris ke kamar Genta.

“Taa,” panggil melvin mengetuk pintu.

“Ini gue, boleh buka pintunya?” tanya Melvin.

“Ada Aeris disini mau ketemu lo juga,” tambahnya.

“Genta, ini aku,” ucap Aeris.

“Ga dikunci,” sahutnya dari dalam.

Melvin membuka pintunya dan benar tidak di kunci, “Kata papah lo dikunci,” celetuk Melvin.

“Kamu sakit apa?” tanya Aeris menghampiri Genta yang berbaring di kasurnya.

“Kamu sakit apa taa,” sambar Valen yang baru saja masuk dan menghampiri Genta.

“Kamu gapapa kan?” tanyanya lagi yang membuat Aeris hanya mematung terdiam.

Kemudian wanita yang Aeris temui di bawah masuk membawa semangkuk bubur.

“Dimakan ya kamu belum makan dari pagi,” ujarnya.

“Sini tante biar Valen saja,” Valen mengambil nampan itu.

Lagi lagi Aeris terdiam, memutar bola matanya kesal pada Valen.

“Yaudah Tante ke bawah ya,” pamitnya.

Dering ponsel Valen berbunyi, “Kenapa pih,” jawab Valen mengangkat telfonnya.

“Pih, sebentar lagi ya?”

“Harus sekarang?”

“Yaudah iya Valen pulang,” ucapnya terdengar kesal.

Valen menurunkan telfonnya dari telinga, “Taa, aku disuruh papih pulang.”

“Yaudah.” Jawab Genta, “Vin anterin valen ya,” ucapnya pada Melvin.

“Gausah taa, aku bisa sendiri kok,” tolak Valen.

“Aku pergi ya,” ucapnya memegang tangan Genta sebelum pergi.

“Vin anterin valen,” pinta Genta setelah perempuan itu keluar dari kamarnya dan Melvin menyusulnya ke bawah.

Sekarang tersisa Genta dan Aeris di dalam kamar.

Tidak lama setelahnya Papah Genta membuka pintu kamar,“Ga baik berduaan di kamar, papah biarin pintunya ke buka ya,” ucapnya.

“Ngapain disini ga pulang-pulang,” sindir Genta ketus.

“Kamu mau papah tinggal biar berduaan disini?”Goda papahnya.

“Gabaik genta, belum muhrim,” ujarnya.

“Iya iya papah ga pergi, papah ke bawah,” lanjutnya.

Setelah papahnya menghilang dari pandangannya,“Kamu sakit apa sih?”Tanya Aeris.

“Kenapa ga bales chat aku?”

Genta malah menggengam tangan Aeris dan menempelkan pada pipinya, “Aku kangen.”

Hari belum gelap, Genta mengajak Aeris ke sebuah tempat entah apa namanya namun dari atas sini ia bisa melihat bagaimana hiruk-pikuk kota Jakarta.

image

“Ini adalah tempat favorit aku ai,” ucap Genta.

“Kamu sering kesini?”

Genta mengangguk, “Tiap kali aku sedih aku selalu kesini.”

“Ini tempat apa? Kok tadi di bawah ada yg jualan?” Aeris penasaran pasalnya bangunan ini seperti rumah, namun bukan rumah tetapi ada penjual makanan dibawah.

Berbeda dengan suasana di bawah yang ramai pembeli, rooftop bangunan ini tidak digunakan, sepi, mungkin orang orang segan untuk naik ke atas.

“Dulu ini adalah sebuah cafee keluarga aku, tapi usahanya bangkrut dan sekarang disewakan sama Bu darti jadi tempat ini,” Genta menjelaskan.

“Oh gitu,” Aeris mengangguk anggukan kepalanya.

Keduanya sama-sama memandang hamparan bangunan di depannya.

“Ta, aku mau tanya deh?” Aeris mulai berbicara.

Aeris menatap Genta, “Kamu suka apa sih?”

“Kamu,” sahut Genta yang membuat pipi Aeris memerah.

“Ih! maksud aku kesukaan kamu?” tanyanya lagi.

“Ya kesukaan aku kamu.” ucapan Genta semakin membuat Aeris bertambah malu.

“Maksud aku, kan aku suka banget semangka, aku suka matcha, aku ga suka belajar tapi malah suka baca novel, kamu suka apa?” ucapnya menutupi saltingnya.

“Kayaknya aku ga tau banyak tentang kamu,” lanjutnya.

“Kamu mau tahu apa?” tanya Genta.

Akhirnya Genta menceritakan dirinya, dia paling benci mentimun, suka warna biru, dan kalian harus tau ini sih Genta paling takut sama ulet bulu, katanya bukan takut tapi geli. Dan masih banyak lainnya yg cukup Aeris tahu.

“Ai,” laki-laki itu menatapnya.

Tatapannya tulus, sangat tulus, ia merapatkan tubuhnya pada Aeris menepis jarak diantara keduanya.

Perlahan ia menundukkan wajahnya sampai hidungnya bertemu dengan hidung Aeris.

“Astagfirullah mas Genta,” ujar seseorang yang sontak membuat Aeris dan Genta memberi jarak.

“Eh maaf mas Genta, ganggu ya?” ujar laki laki yang Genta kenal anak Bu darti.

“Kamu dimana, aku baru sampe,” pesan yang dikirim aeris pada genta.

“Ngambil bola basket,” balasan dari laki-laki itu yang membuat aeris melangkah menuju gudang olahraga tempat penyimpatan ala-alat olahraga.

“Hei,” sapa aeris ketika melihat genta sendiri di ruangan.

Genta tersenyum melihat Aeris.

“Kamu udah sarapan?”tanya Aeris mendeketi genta.

“Belum,”jawab Genta.

“Aku bawain bekel,” ucapnya mengikuti genta yang mengambil bola basket.

“Buat aku?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh Aeris.

Genta mengeluarkan bola basket, “Boleh pegangin ga?” Genta menyerahkan satu bola basket pada Aeris.

Aeris menerimanya dan sedang Genta mengambil dua bola lagi.

Lalu keduanya keluar dari gudang dan bersama-sama menuju lapangan basket.

“Hai Ris,” sapa seorang laki-laki yang Aeris kenal itu Farhan.

“Hai han,” balas Aeris seadanya.

“Lo kok ga bales chat gue sih?” tanyanya membuat Genta yang berdiri di sebelah Aeris berdehem

“Eh hai ta, sehat lo?” tanya Farhan pada Genta.

“Seperti yang lo lihat,” balasnya tidak suka.

“Kenapa ta,” tanya aeris ketika sudah berada di rooftop bersama Genta.

Genta menoleh dan tepat di sebelahnya Aeris berdiri.

Genta memandang suasana kota Jakarta sore hari ini dari atas rooftop ini, ia mengembuskan napas mencoba untuk menenangkan hatinya yang berdegup dengan kencang.

“Lo tahu ga arti nama gue apa?” tanya genta tiba-tiba yang membuat aeris mengeryitkan dahinya.

“Magenta?” balasnya.

Genta mengangguk menatap gadis yang memiliki rambut lurus itu.

“Apa memangnya?”

“Lo tahukan kalo magenta itu campuran dari warna merah dan ungu.”

Aeris mengangguk kemudian menatap genta mencari jawaban dari pernyataan laki-laki itu.

Genta mengalihkan pandangannya dari perempuan itu pada bangunan bangunan yang terhampar di depannya.

“Sebuah warna yang tidak bisa dikatakan cerah ataupun gelap, begitulah hidupku ai, penuh keraguan.”

“Tapi bagi gue magenta itu gelap, warna merah yang mendominasi tidak memberikan pengaruh banyak pada warna ungu di dalamnya, hidup aku gelap ai.” jelas laki-laki itu tanpa Aeris tahu akan kemana obrolan ini berjalan.

“Tapi di belakang namamu ada pijar yang berarti cahaya, cahaya yang akan menerangi hidup lo.”sanggah Aeris.

Laki laki itu kembali menatap Aeris,“Ya dan sekarang gue menemukan pijar yang gue cari,” ucap Genta membenarkan.

“Maksud lo?”Aeris tidak mengerti.

“Lo.”

“Lo maukan jadi pijar gue?”lanjutnya yang masih tidak mengerti oleh Aeris.

“Gue suka sama lo Ai,” aku genta yang membuat Aeris terkejut.

“Hah?”hanya itu yang keluar dari bibir Aeris.

“Gue suka sama lo,”ulangnya sekali lagi.

Pengakuan itu membuat aeris senang bukan maen, ia ingin sekali berteriak namun ia tahan.

“Gimana?”tanya Genta.

“Lo mau ga jadi pacar gue?”

Aeris masih tidak menanggapi karena saking senang dan kagetnya.

“Lo syok banget” Genta tersenyum melihat ekspresi Aeris melongo.

“Gapapa kok kalo lo jawab nanti.”

“Gak!” jawab Aeris.

“Gue mau jawab sekarang,” lanjutnya.

“Gue mau ta.”

Aeris dan genta berjalan beriringan hendak menuju ruang OSIS rapat.

Dering diponsel genta berdering, Genta berhenti dan mengangkatnya, “Halo sus?”tanyanya pada seseorang di seberang.

“Mamah kenapa sus?”tanya Genta.

“Genta kesana sekarang,”genta panik.

Aeris yang disampingnya bertanya,“Kenapa ta?”

“Ai rapatnya batalin aja ya, gue mau ke rumah sakit.”jelas Genta.

Sebelum pergi Aeris menarik tangan Genta,“Siapa yang sakit?”

“Mamah gue.”

“Gue boleh ikut ga ta?”

Tanpa berpikir panjang Genta mengangguk“Yuk.”

Genta mengendarai motornya dengan kecepatan penuh sampai Aeris memeluk erat tubuh genta dibelakang.

Sesampainya di rumah sakit, “Mamah kenapa sus?” tanya Genta memasuki ruangan itu.

“Ibu hampir melukai dirinya lagi mas,”jawab suster itu.

Genta melihat mamahnya sudah tenang tertidur.

“Ibu sudah tenang, maaf ya mas tadi saya panik jadi telfon mas,”kata suster tadi

“Iya sus gapapa.”

“Saya tinggal ya mas, mba.”pamitnya.

Selepas suster meninggalkan ruangan, pintu ruangan terbuka kembali.

Seorang pria memasuki ruangan, Genta menoleh dan berdiri, “Pergi.” Usirnya.

“Gue bilang pergi!” Genta berteriak marah.

Genta menarik pria paruh baya itu keluar dan ia menghajarnya.

Aeris ikutan keluar, “Genta,” panggilnya yang tidak dihiraukan Genta.

“Ini rumah sakit jangan bertengkar, malu dilihatin orang Genta,” jelas pria paruh baya itu.

“Gue bilang pergi,” usir Genta lagi.

“Oke papah pergi.”

Setiap hari minggu Genta selalu meluangkan waktunya untuk menengok mamahnya.

“Mamah gimana sus?” tanya Genta pada suster yang telah selesai memberi mamahnya makan.

“Tambah parah mas, ibu sering teriak-teriak dan mecahin benda-benda,” jawab suster tersebut.

“Minggu kemarin ibu hampir melukai dirinya sendiri pakai pecahan gelas mas,”lanjutnya.

Genta melihat mamahnya hanya terdiam. “Makasih sus,”ucap Genta.

“Boleh saya bawa mamah keluar?”tanyanya meminta izin.

“Boleh kok mas, ”Jawab suster mengizinkan.

“Tapi hati-hati jangan pancing ibu sama hal yang bisa membuat ibu mas kambuh lagi,”tambahnya.

“Iya sus.”

Genta mendorong kursi roda, membawa mamahnya keluar dan keliling di taman rumah sakit.

“Mahh,”ucap Genta dihadapan mamahnya.

“Ini Genta, anak mamah.”

“Mamah harus sembuh ya,”pintanya pada wanita yang ingatannya melebur entah kemana.

Mamahnya tidak menjawab, ia hanya diam dengan pandangan mata kosong.

Namun tiba-tiba ia histeris, melihat seorang pria paruh baya.

Mamahnya berdiri menerjang pria itu “Kamu jahat,”racaunya sambil memukuli.

“Kurang ajar.”

“Pengecut.”

“Mahh,” genta mencoba melerai itu namun mamahnya terus menyerang pria itu.

Sampai akhirnya suster datang memberi suntikan yang membuat mamahnya tenang.

Aeris berjalan sendirian menuju perpus hendak mencari novel hehe. Sudah dibilang belum aeris itu payah dalam pelajaran dan memilih menghabiskan waktunya untuk membaca novel daripada belajar.

Dari arah belakang ada yang mengagetkannya.“Dor!”

“Ish lo,” Aeris melihat janari dan kembali berjalan diikuti Janari.

“Mau kemana?”tanya laki laki itu.

“Perpus.”

Melihat Janari mengikutinya Aeris bertanya, “Lo mau kemana?”

“Gatau, coba tanya sama kaki gue.”jawabnya yang membuat Aeris memutar bola matanya.

“Kan yang punya kaki lo ya pak,”balas Aeris heran.

Namun Aeris menanggapinya, “Eh kaki lo mau kemana?”

Janari tertawa dan menjawab, “Gatau nih pengen ngikutin kaki yang cantik di sebelah.”

Aeris hanya menggelengkan kepalanya, “Orang aneh.”


Sesampainya di perpus Aeris langsung menuju rak novel, menelusuri satu persatu buku yang berjejer.

“Lo cari buku apa?”Tanya Janari yang masih mengikutinya.

“Novel,” sahut Aeris tanpa menoleh ke arahnya.

“Suka baca cerita-cerita alay gitu?”

Mendengar penuturan Janari Aeris menatapnya,“Heh ngga alay ya!”ucapnya tidak terima.

“Alay tahu.”balas Janari meledek.

“Daripada baca doang mending buat cerita indah sama gue yuk.”ajaknya.

“Adanya cerita nyebelin kalo sama lo,”ucap Aeris.

“Justru yang nyebelin itu yang menarik.”

“Bisa tuh kita buat cerita judulnya, annoying boy.”Jelasnya.

“Nanti ceritanya awalnya nyebelin trus lama-lama si ceweknya suka sama cowoknya.”tambah Janari

“Paham bener pak, suka baca yang kaya gitu ya?”ledek Aeris.

“Apaan, jijik gue baca kaya gitu.”

“Eleh itu tahu.”Goda Aeris.

Aeris mengambil buku dari atas. Ia mendongak dan matanya kelilipan“Kenapa?”

“Aduh debunya masuk keknya,” ujarnya dengan tangan mengucek matanya.

Janari menghentikannya, “Jangan dikucek, sini gue tiupin.”

Disaat yang sama Genta diikuti Valen masuk dalam perpus melihat Aeris dan Janari.

“Ekhem,” deheman Genta membuat keduanya kaget.

Valen menghampiri Genta di ruang osis, ia melihat genta sendirian di dalam ruangan.

“Kamu belum makan siang kan?” tanyanya ceria.

“Belum.” Sahut Genta datar.

“Aku buatin bekal, tanda terimakasih waktu itu kamu udah nolongin aku,” jelasnya.

“Kamu masih sayang ya sama aku?” goda Valen.

Genta menyangkal ucapan valen tersebut “Len.”

“Buktinya kamu masih peduli sama aku,”sanggahnya.

Genta hanya diam tidak meresponnya, “Kok kamu jadi dingin gini sama aku.”

“Kemarin kamu nolongin aku karena kasihan ya sama aku?” tuduh Valen.

Genta tidak menanggapi, “Genta jawab! Kemarin kamu kasihan sama aku?”

“Len, udah. Kemarin gue cuma mau nolongin lo.”

Genta mengambil kotak bekal di tangan Valen. “Gue terima, makasih ya.”

Namun Valen masih belum beranjak dari tempatnya.

“Semangka,” ujarnya melihat semangka di meja Genta.

“Buat siapa?”

“Aeris,”jawab Genta tegas.

“Oh.”

“Harus banget ya lo beliin dia semangka tiap hari?”

“Kok lo tahu?”tanya Genta.

“Aku tahu ta, setiap istirahat kamu sama dia kan?”

Pintu terbuka dan Aeris melihat Genta sedang bersama Valen. “Eh sorry, gue ganggu ya?”

“Ngga kok Ai,”jawab Genta hangat.

“Mana semangkanya?”tanya Aeris to the point melihat Valen yang tidak suka kehadirannya disini.

Genta memberikan semangkanya pada Aeris dan Aeris menerimanya.

“Gue ke kelas ya?”Pamitnya setelah mengambil semangka dari tangan Genta.

“Ga disini aja?”tanya Genta.

“Ngga deh, ditungguin Hana,” tolak aeris

Sedangkan Valen menatap Aeris tajam dan tidak suka.

Sesampainya di cafe kenangan, mata Genta mencari perempuan itu di seluruh ruangan dan tertuju pada seorang wanita di meja paling pojok, sendirian.

Tubuhnya meringkuk dengan tangan menutup telinganya.

Hujan kali ini disertai petir dan kebiasaan perempuan pengidap ombrophobia itu rupanya masih sama seperti dulu, belum bisa mengendalikan dirinya dan berdamai dengan hujan.

Genta mengetahui semua yang terjadi dalam dunia perempuan itu, mengapa ia menjadi takut akan kehadiran hujan dan petir.

Genta sangat mengenalnya karena ia sudah berteman sejak kecil.

Hanya saja dua tahun kebelakang ini perempuan itu meninggalkannya dan menghilang dari pandangannya entah dengan alasan apa.

Genta menghampirinya, membuka jaketnya yang basah, lalu memeluk perempuan itu.

“Gue disini,” ucap Genta menenangkan.

Tubuh perempuan itu gemetar, air matanya menetes melihat genta di sebelahnya dan masih menutup telinga dengan tangannya.

“Gue takut, taa,” ucapnya dengan suara gemetar.

“Papah jahat taa, papah jahat,” racaunya.

Genta merogoh ipod dari sakunya, memasangkan pada telinga perempuan itu dan mengeraskan volumenya.

Perempuan itu perlahqn mulai tenang, membuka matanya sedikit, melihat genta dan kembali mengeratkan pelukannya.“Gue takut taa.”

Hari ini hujan turun membasahi jalanan yang biasa berdebu, rapat telah selesai, ada beberapa anggota osis yang memilih tinggal dalam ruangan menunggu hujan reda.

Genta masih sibuk dengan kertas-kertasnya, sedangkan anggota lainnya malah bergerombol entah membicarakan apa.

Tiba-tiba ponsel Genta berdering. Satu kali, Genta melihat nama yang tertera kemudian membiarkannya dan tidak mengangkat.

Dua kali. Genta masih tidak bergeming.

Beberapa menit kemudian dentingan chat muncul, Genta melihat notif yang muncul dari Valen, ya seseorang yang dari tadi menelpon itu valen.

Genta membuka chat itu dan untuk ketiga kalinya ponselnya berdering, genta langsung mengangkatnya.

“Taa.” ucap suara dari seberang.

“Taa, tolongin gue, gue takut.”ucap seseorang itu dengan suara gemetar.

“Gue takut taa,”isaknya.

“Lo dimana?”

“Gue di café kenangan.”

“Gue kesana sekarang.”