Sebuah sandwich dan roti

Aeris menunggu Genta sambil bertanya kepadanya melalui chat.

Aeris menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah pintu.

“Tumben pagi,” ledek Genta yang baru saja tiba.

Aeris hanya tersenyum melihat Genta yang wajahnya masih pucat dan terlihat lelah namun ia tutupi dengan senyumnya.

“Lo masih sakit?” tanya Aeris.

“Udah baikan kok,” jawabnya.

Genta membuka gembok itu dan pintu terbuka.

Genta memasuki ruang OSIS diikuti Aeris dibelakangnya.

“Oh iya lo mau apa pagi pagi ke ruang OSIS?” tanya Genta.

Aeris terdiam pasalnya ia ke ruang OSIS hanya ingin melihat Genta, dan sekarang ia bingung hendak menjawab apa.

“Lo udah sarapan?” sebuah pertanyaan itu malah yang keluar dari mulut Aeris.

Genta menggelengkan kepalanya.

“Ish lo tuh sakit, sarapan dulu.” Aeris mengeluarkan kotak bekal yang sebenarnya untuk dirinya sendiri dari dalam tasnya.

“Nih,” Aeris menyerahkan kotak bekal itu pada Genta.

“Lo yang buat?” tanya Genta menerima kotak itu.

“Bukan, mamah gue yang buat,” jawab Aeris jujur.

Genta membuka kotak yang diberikan Aeris. Isinya dua potong sandwich.

Genta menarik kursi begitupun Aeris duduk didepannya.

“Lo sendiri udah sarapan?” tanya Genta.

“Udah kok,” balas Aeris.

“Morning everybody,” teriakan Yaksa mengagetkan memasuki ruang OSIS di susul dengan Melvin.

“Taa, buat lo nih,” Yaksa menyodorkan sebuah roti dan air mineral.

“Dari siapa?”

“Fans lo lah, tadi di depan, ada suratnya juga.”

Yaksa menyimpannya di hadapan Genta. Aeris sempat melirik notes di atas roti itu.

To: Kak Genta Kemarin kakak sakit ya? Ini buat kakak dimakan ya kak rotinya. Semoga cepat sembuh ya kak.

“Buat lo aja, gue ada nih,” Genta melirik sandwich di kotak bekal yang sudah terbuka.

Genta memberi roti tersebut pada Yaksa. memakan sandwich.

“Gue duluan ya taa, udah mau bel,” pamit Aeris.

“Yaudah, makasih ya ai.”