Makan malam
Pukul 7 malam dengan rasa malas Genta tetap menuruti perintah papahnya untuk datang ke sebuah restoran.
Didalam ruangan itu sudah ada papahnya, seorang wanita yang Genta kenal sebagai mamah Janari, juga Janari.
Genta melihat papahnya tersenyum bahagia memasangkan cincin di jari mamah Janari.
“Pahh,” panggil Genta dengan lirih namun matanya menyiaratkan kemarahan.
Papah Genta menoleh melihat anak semata wayangnya berdiri tak jauh darinya.
Belum sempat menyapa, Genta meninggalkan restoran itu.
“Taa,” panggil Janari menyusul Genta.
Genta marah, Genta benci papahnya. Sejak mamahnya jatuh sakit keluarganya berantakan.
Papahnya meninggalkan apartemen yang mereka tinggali.
Dan dugaan Genta selama ini benar bahwa papahnya dan mamah Janari memiliki hubungan.
Genta sempat melihat papah bersama maamahnya Janari berduaan dan berpegangan tangan. Namun waktu itu Genta memaklumi karena papahnya selalu bilang bahwa mamah Janari adalah sahabatnya. Namun malam ini ia tidak lagi percaya papahnya. Ia membenci papahnya.
“Genta,” panggil Janari.
“Taaa, tunggu ta,” janari menghentikan langkah Genta.
“Bugh, bugh...” Genta memukul Janari.
“Taa, gue..” Janari mencoba menjelaskan namun ia kembali dihajar Genta.
“Gue benci sama lo,” pukulnya membuat sudut bibir Janari berdarah.
“Gue bisa jelasin taa,” ucap Janari mencoba menenangkan Genta.
“Jelasin apa Jan?”
“Jelasin kalo papah gue mau menikah sama mamah lo?”
“Jan mamah gue masih hidup, dan sekarang lagi sakit,” ucapnya marah.
“Keluarga lo berengsek, mamah lo perusak hubungan orang,” tambah Genta.
Janari tidak terima mamahnya direndahkan. Ia memukul Genta dan membuat sudut bibir Genta juga berdarah.
“Genta, cukup,” lerai papah Genta menghampiri keduanya yang berada di luar restoran.
Genta pergi meninggalkan papahnya bersama Janari dengan segala kekecewaan yang berkecamuk dalam dirinya.