Dieksekusi

Setelah suara adzan berhenti berkumandang, keluarga Aeris dan juga Genta hendak melaksanakan sholat.

“Genta,” panggil papah Aeris.

“Ya Om,” jawabnya.

“Bisa jadi imam kan?” tanya papah Aeris.

“Bisa Om,” jawab Genta lagi.

“Imamin ya,” pintanya.

Genta mengangguk mantap, kemudian maju ke depan menjadi imam.

Sholat Maghrib di penghujung sore itu menjadi momen terindah untuk Genta. Semenjak mamah Genta dirawat di rumah sakit, ia tidak pernah sholat berjamaah bersama keluarga.

Keluarganya hancur berantakan, rumah yang dulunya jadi tempat pulang paling nyaman sekarang jadi seonggok ruangan tak bernyawa.

Lantunan surat yang di lafalkan Genta begitu indah. Juga rukun demi rukun ia lakukan dengan khusyu.

Setelah melaksanakan sholat maghrib Genta duduk bersama Aeris dan papah Aeris di ruang tamu.

“Kamu belum mandi Ai?” tanya papah Aeris yang melihat Aeris masih mengenakan seragam.

Aeris menggelengkan kepalanya.

“Mandi dulu sana,” ujarnya.

Aeris tak bergeming, ia masih di tempatnya, duduk di ruang tamu bersama Genta juga.

“Nanti pah, ini Genta mau langsung pulang kan?” tanyanya.

“Nanti, papah mau ngobrol dulu sama Genta,” ujar papahnya

“Kamu sana mandi,” suruhnya.

“Pahh,” rengek Aeris dengan mata memohon biarin Genta pulang.

“Mandi Aeris,” ucap papah Aeris lagi. Aeris menatap Genta yang dibalas dengan anggukan seakan mengatakan “Gapapa Ris.”

“Jangan tanya aneh-aneh,” ucap Aeris “Genta tuh cuma temen pah,” lanjutnya lagi.

“Iya Ngga,” jawab papah Aeris

Namun melihat anaknya itu masih ditempatnya papahnya berkata lagi, “Aeris.”

“Iya iya Aeris mandi,” ucap Aeris meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.

Selepas Aeris pergi, papah Aeris mulai mengeksekusi Genta.

“Udah punya KTP?” tanya papah Aeris serius yang membuat Genta sedikit takut.

“Belum Om,” jawab Genta

“Oke baiklah, nama lengkap siapa?” tanyanya.

“Magenta Pijar Om,” jawab Genta.

“Tanggal lahir?”

“21 Februari 2005.”

“Nama orang tua?”