hiupiuuu

“Aku akan bicara hal egois jadi tolong dengerin Bhumi, Kak,” pinta Bhumi ketika ia berhadapan dengan Kak langit.

Tekadnya sudah bulat, ia akan tetap nekat menyukai seseorang yang ada dihadapannya sekarang. Ia tidak akan berhenti sekalipun seluruh dunia tidak mendukungnya.

Bhumi menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Soal kemarin Bhumi anggap Kak Langit gak pernah kirim chat itu,” ucapnya pelan.

“Dan Bhumi gak akan pernah berhenti Kak, Bhumi gak mau berhenti, Bhumi akan tetap disini menunggu sampe Kak Langit suka sama Bhumi.”

“Jadi tolong jangan minta Bhumi buat berhenti suka sama Kak Langit.”

Laki-laki di hadapannya itu tidak merespon apapun, dia hanya diam dengan muka datar seperti biasa.

“Kak, Bhumi akan mundur dengan sendirinya jika Bhumi ingin Kak, dan untuk sekarang Bhumi belum mau berhenti.”

“Bhum, gue gak suka sama lo.” Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut laki-laki dihadapannya itu.

“Gue gak bisa suka kalo bukan gue yang suka duluan,” jelasnya.

“Gue gak mau nyakitin lo Bhum.”

“Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari gue.”

“Tapi Bhumi sukanya sama kak Langit, sama seperti Kakak yang gak bisa suka ke Bhumi, Bhumi pun gak bisa suka sama orang lain.”

Kak Langit kembali membalas, “Bhum, lo cantik, lo pantes dicintai dan bukan gue orangnya.”

“Stop buat suka sama gue, berhenti chat gue,” pintanya serius.

“Gak Kak, Bhumi gak akan nyerah.” Bhumi masih tetap kekeh dengan pendiriannya.

Rupanya laki-laki di depannya ini mulai jengah dengan Bhumi, terlihat dari mimik wajahnya yang sedikit kesal karena Bhumi yang ngeyel.

“Bhum please deh gue minta lo baik-baik gini biar gue gak nyakitin lo terlalu dalam,” ucapnya lagi.

“Gue gak suka sama lo.”

“Gue suka sama orang lain.”

DUARRR

Bagai disambar petir Bhumi terkejut, rupanya ada orang lain yang menempati hati Kak Langit pantas saja pintunya tertutup rapat.

Hati Bhumi sakit, matanya berkaca-kaca seakan air matanya minta dikeluarkan.

“Jadi gue mohon tolong berhenti ya?”

Selepas itu Kak Langit pergi meninggalkan Bhumi disambut hujan yang tiba tiba turun bersamaan dengan air mata Bhumi yang perlahan jatuh.

Bhumi masih diam di tempat, tekadnya yang bulat di awal perlahan memudar karena perkataan Kak Langit, “Apa benar aku harus berhenti?”

Ah bahkan saat langit hujan pun Bhumi tetap menyukainya, sama seperti aku menyukaimu Kak.

Siang itu, Bhumi meminjam buku di perpustakaan, terpaksa sendirian karena ditinggal Nada dan Tari yang sudah meminjam buku duluan.

Tiba di dalam perpustakaan ia langsung menuju ke rak astronomi dimana buku-buku seputar dunia langit itu berjejer.

Hampir lima belas menit Bhumi mencari bukunya tetapi tidak kunjung menemukkannya juga.

Bhumi menghubungi Nada, hendak bertanya dimana letak bukunya, pasalnya kata Nada bukunya masih ada. Namun sialnya tak bisa terhubung karena pagi tadi Bhumi mendapat pesan bahwa kuota internetnya habis.

Dengan segera bhumi menyalakan wifi berharap langsung bisa masuk, namun nyatanya ada passwordnya, dan ia tidak tahu apa passwordnya. Maklum mahasiswa baru dua bulan di kampus ini.

“Kak ini password wifinya apa ya?” tanya Bhumi pada seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari raknya.

”Nama kamu siapa?” laki-laki itu malah bertanya.

“Oh Bhumi kak,” jawab Bhumi sopan.

“Maksud gue itu passwordnya,” jelas laki-laki itu yang membuat Bhumi malu.

“Oh passwordnya aneh banget,” Cicit Bhumi yang masih bisa didengar seseorang di sebelahnya.

“Huruf kecil semua ga pake tanda tanya.”

Bhumi memasukkan passwordnya dan benar terhubung.

“Udah masuk, makasih ya kak,” ucap Bhumi.

Belum beranjak sepenuhnya laki-laki itu menghentikan Bhumi, “Eh gue boleh pinjem ponsel lo ga?”

“Gue lupa naro ponsel dimana,” lanjutnya.

Tanpa pikir panjang Bhumi langsung menyerahkan ponselnya pada laki-laki itu,

“Oh boleh, nih.”

“Gue minta telfon ya,” izin laki-laki tadi mengambil ponsel Bhumi. Bhumi hanya menganggukkan kepala, “Pake aja.”

Namun suara operator terdengar, “Maaf pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.”

Bhumi malu dan rasanya ia ingin menghilang saja dari hadapan laki-laki itu.

“Telfon wa aja kak, biasanya datanya nyala ga?” saran Bhumi ditengah kekonyolan itu.

Laki-laki itu mengikuti ucapan Bhumi dan tak lama dering ponsel berbunyi dari dalam kantong celana milik laki-laki itu, “Oh disini rupanya.” Laki-laki itu merogoh saku celananya.

Laki-laki itu mengembalikan ponselnya pada Bhumi, “Thanks ya.” “Btw itu nomor gue, save ya.”

Bhumi hanya mengangguk-angukan kepalanya saja, ia merasa sedang ditipu oleh laki-laki kardus itu, ah entahlah bodo amat.

Bhumi beranjak meninggalkan laki-laki tadi menuju rak deretan buku astronomi namun laki-laki itu ternyata mengikutinya di belakang.

“Jangan lupa save ya,” ingatnya lagi.

“Iya nanti aku save.”

“Emang lo tau nama gue siapa?”

“Eh?” Bhumi menghentikan langkahnya menatap laki-laki itu.

“Sayang, tulis aja di kontaknya sayang,” candanya.

“Oh, oke.” Bhumi malas meladeni laki-laki kardus itu dan kembali mencari buku yang sedari tadi ia cari.

“Ck, Gue Abimana,” Laki-laki itu menyodorkan tangannya di depan Bhumi, rupanya jengkel karena ditanggapi Bhumi dengan datar.

“Tapi gapapa kalo kontaknya dinamain sayang, gue ikhlas,” lanjutnya.

Rupanya laki-laki itu berisik, sangat bawel. Bhumi kira penampilannya yang kalem tingkahnya pun ikut kalem, namun ternyata sangat berbanding terbalik. Benar kata pepatah sepertinya kita tidak boleh menilai orang dari covernya saja.

Tapi Bhumi kalo beli buku liat covernya dulu yang lucu, oke ini abaikan.

“Ck, oke Abi,” balas Bhumi mencoba masih ramah dengan lelaki itu.

“Iya umi.”

Perempuan itu menatapnya tidak suka.

“Nama lo Bhumi kan? boleh gue panggil umi?”

“Bhumi, panggil Bhumi aja.”

Pukul 8 malam, Bhumi masuk dalam ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi. Bhumi membiarkan dirinya berada dalam ruangan gelap itu. Dengan perlahan ia menyalakan sumber cahaya, dan sebuah lampu tidur sedikit menerangi kamar itu.

Sebuah kamar yang di dalamnya penuh dengan benda-benda langit, planet-planet mulai dari merkurius hingga neptunus bergantungan dari atap kamar itu, tak lupa dinding dan juga langit-langit kamar bercat hitam namun bertabur bercak bercak putih yang terlihat seperti bintang bintang, membuat siapapun yang masuk dalam ruangan itu seakan masuk dalam ruang angkasa.

Bhumi duduk di kursi yang di hadapannya terpampang miniatur-miniatur benda-benda langit milik papahnya. Suasana sendu dalam kamar itu membuat Bhumi perlahan memutar memori kenangan indah bersama papahnya sampai tak terasa air mata mengalir dari pipinya, Bhumi menangis.

Isakan Bhumi semakin kencang, sampai seseorang mengetuk pintu itu.

“Bhum, kamu di dalam?” tanya seseorang dari balik pintu.

Isakan itu semakin terdengar memilukan membuat Bayu masuk dalam ruangan itu dan mendapati Bhumi tengah menangis bertumpu dengan kedua tangannya di meja.

Bayu mendekati Bhumi “Kenapa?,” tanyanya tenang.

Bhumi tidak bergerak sama sekali, ia menangis, Bayu mendekap adik kesayangannya itu.

“Kak, Bhumi kangen papah.”

Kalau kamu tanya kenapa Bhumi bisa suka sama Kak Langit maka Bhumi pasti akan menjawab, “Gak tau.” Ya dia gatau kenapa bisa suka sama Kak Langit yang kalau dipikir-pikir memang sikapnya nyebelin, dingin dan tak tersentuh. Bhumi gak punya alasan mengapa ia sangat menyukai Kak Langit yang jelas ia bahagia saat melihat langit yang berwujud manusia itu ataupun langit yang di atas.

Selama perjalanan pulang tadi Bhumi tak banyak bicara, selain karena jantungnya yang kurang ajar seperti mau lompat, Bhumi juga enggan bertanya karena melihat Kak Langit yang sepertinya enggan untuk ditanya-tanya bisa dilihat dari mukanya yang galak, tapi mukanya memang begitu tanpa senyum padahal senyum tuh gratis.

Meski ada banyak topik di kepalanya yang ingin ia tanyakan, seperti apa lagu kesukaan, makanan favorit, sampai pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu hanya tersimpan di kepala tanpa minta di keluarkan. Bhumi hanya ingin menikmati momen yang sulit terjadi ini, berharap waktu berjalan pelan-pelan karena ingin lama-lama bersama Kak Langit.

“Rumah lo dimana?” hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Kak Langit yang dijawab oleh Bhumi dengan arahan di setiap pengkolan gang, “Belok kiri…”

“Lurus..”

“Dikit lagi sampe.”

“Belok ke kanan.”

“Sampai.”

Meriah sekali acara konser hari ini, semua orang sangat menikmati terbukti dengan teriakan-teriakan mahasiswa yang ikut bernyanyi selama acara entah karena memang suka lagunya, relate sama keadaannya atau hanya teriak untuk meredakan stress dari tugas-tugas yang menumpuk.

Nada, Tari dan Bhumi pun ikut teriak sampai tenggorokannya terasa kering.

“Nad, ada minum ga?,” tanya Bhumi pada Nada di sebelahnya.

“Ga ada gue lupa beli, Lo haus?”

Bhumi mengangguk.

“Gue juga haus,” ujar Tari kemudian mengajak Bhumi untuk membeli minum, “Yuk beli keluar.”

“Ini boleh keluar stage?” tanya Bhumi.

“Yang ga bolehin siapa?” Tari bertanya balik.

“Di belakang ada panitia.” Bhumi melihat Kak Langit, Jean dan teman-teman lainnya di belakang.

“Boleh bhum lo kira kita lagi ospek, ayo ah,” Nada mendahului keluar dari stage di ikuti oleh Bhumi dan Tari.

Setelah mendapat air minum ketiganya kembali ke stage namun tidak kembali ke tempat semula, karena sudah ada orang lain yang menempati. Jadi Nada, Tari dan Bhumi berada di posisi paling belakang, tak jauh dari posisi Langit dan teman-temannya.

“Kita disini ajalah, sumpek tau disana.”

“Sumpek atau karena ada ehem,” ledek Tari.

Bhumi hanya menyengir, konser hampir selesai namun tiba-tiba kepala Bhumi terasa pening, perlahan suara teriakan-teriakan itu mulai samar ia dengar, pandangannya mulai kabur dan Bhumi tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.

Bhumi pingsan.

“Bhum,” panggil Nada saat Bhumi tidak sadarkan diri.

“Bhumi,” Tari ikut membantu Nada.

“Bhumi lo kenapa” tanya Nada menepuk-nepuk pipi Bhumi.

“Panitia, panggilin panitia,” teriak salah seorang penonton.

“Panitia ada yang pingsan disini.”

Langit yang berada tak jauh dari posisi Bhumi langsung mendekat.

“Kak tolong kak,” ucap Nada kemudian Langit membawa Bhumi keluar dari kerumunan konser diikuti Nada dan Tari.

Langit membawa Bhumi ke ruang BEM karena jarak ke klinik kampus lumayan jauh. Langit menidurkan Bhumi pada sofa yang ada disana.

“Gue panggilin anak ksr bentar ya,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.

Tak lama setelahnya beberapa anak ksr datang dan memeriksa kondisi Bhumi. KSR sendiri adalah korp sukarela yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus.

Setelah kondisi Bhumi di periksa, diberi minyak kayu putih tak lama setelahnya Bhumi menggeliat dan perlahan membuka matanya.

“Bhum lo sadar?” Nada yang sedari tadi khawatir menghela napas lega.

“Minum dulu,” ucap salah petugas ksr menyodorkan segelas air.

“Maaf ya Bhum, gara-gara gue ngajakin lo jadi kayak gini,” sesal Nada.

“Gue juga ya Bhum,” Tari mendekat ke Bhumi.

“Gapapa Nad, Tar aku malah seneng kok bisa nonton konser.”

“Oh iya tadi Kak Langit yang bawa lo kesini,” ucap Tari yang membuat Bhumi kegirangan.

“Kak Langit yang bawa aku?” Bhumi tak percaya membelakan matanya.

Bhumi cenfengesan, “Tadi aku pingsan gimana?” tanyanya.

“Masih cakep kan?”

“Ish lo mah!” kesal Nada yang sedari tadi khawatir kondisi Bhumi, sekarang anaknya malah cengengesan bertanya cakep atau tidak ketika pingsan.

“Ya kan takut Kak Langit ilfil sama aku,” ujarnya membuat kedua temannya itu menggelangkan kepala tak habis pikir.

“Lo beneran gapapa?” tanya Tari memastikan temannya itu baik-baik saja takutnya kepalanya kepentok batu.

“Gapapa Tar,” Bhumi tersenyum.

“Gue telfon mamah lo ya?” tanya Nada.

“Nad, aku okay jangan bilang mamah ya,” pintanya menghentikan Nada yang hendak menelepon Mamah Bhumi.

Pintu terbuka, Langit datang bersama dua temannya Jean dan Juni.

“Lo udah bangun?” tanya Langit.

“Udah kak,” balas Bhumi tak lupa dengan senyumnya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam, Jean bertanya, “Lo pulang naik apa Bhum?”

“Paling gojek Kak,” jawab Bhumi.

“Bahaya biar Langit aja yang nganter,” ucap Jean yang membuat Langit tidak suka.

“Apaan sih lo, kok gue,” Langit menolak.

Bhumi tidak enak melihat Kak Langit yang sepertinya tidak mau, “Gausah kak lagian ini masih sore kok.”

“Udah sana anterin.” Jean mendorong Langit

“Jean lo tuh-“ ucap Kak Langit namun terpotong

“Acara gue sama Jean yang urus, udah lo anterin dulu anak orang,” ucap Juni.

Tak mau panjang lebar langit mengikuti kemauan temannya itu, “Yaudah ayo.”

Bhumi hanya cengengesan mengikuti Kak Langit yang pergi duluan.

Ditengah suasana konser yang meriah, setelah ikut teriak-teriak menyanyi tiba-tiba Bhumi merasa pening. Kepalanya seakan berputar, pandangannya perlahan mengabur dan bhumi tidak ingat apa-apa setelahnya.

Bhumi pingsan dan semua orang menatap ke arah Bhumi.

“Bhum,” panggil Nada saat bhumi tidak sadarkan diri.

“Bhumi,”tari ikut membantu nada.

“Bhumi lo kenapa?”tanya Nada lagi.

“Panitia, panggilin panitia,” teriak salah seorang penonton.

“Panitia ada yang pingsan disini.”

Tak lama setelahnya langit datang bersama panitia lainnya.

“Kak tolong kak,”ucap Nada, kemudian langit mengangkat dan membawa bhumi keluar dari kerumunan konser diikuti Nada dan Tari.

Sesampainya di dalam ruang BEM, langit menidurkan Bhumi di sofa.

“Gue panggilin anak ksr dulu ya,” ucap langit sebelum meninggalkan ruangan.

Selepas kepergian langit, Nada mencari sesuatu di dalam tas Bhumi, menemukan sebotol obat, dan tak lama setelah itu dua anggota ksr datang.

Setelah kondisi denyut nadi Bhumi diperiksa, Bhumi dibiarkan istirahat dan tak lama setelahnya Bhumi menggeliat, perlahan membuka matanya.

“Bhum kamu bangun?” Nada menghampiri Bhumi.

“Minum dulu,” ucap Nada sembari menyodorkan segelas air.

“Sorry ya Bhum, gara-gara gue ngajakin lo jadi kayak gini,” sesal Nada.

“Gapapa Nad, gue malah seneng kok.”

“Oh iya tadi kak langit yang bawa lo kesini,” ucap Tari yang membuat Bhumi tersenyum.

“Kak langit yang bawa gue?” tanyanya Girang.

Bhumi cengengesan, “Gue tadi pingsan gimana? Masih cakep kan?”

“Ish lo mah,” kesal Nada yang sedari tadi khawatir kondisi Bhumi, sekarang anaknya malah cengengesan bertanya cakep atau tidak ketika pingsan.

“Ya kan takut kak langit ilfeel sama gue,” ujarnya yang membuat kedua temannya itu menggelengkan kepala tak habis pikir.

“Lo beneran gapapa?” tanya Tari memastikan temannya itu baik-baik saja.

“Gapapa Tar.”

“Gue telfon mamah lo ya?” tanya Nada.

“Nad, gue okay jangan bilang mamah ya.”

Pintu terbuka dan Langit datang bersama dua temannya Jean dan Juni.

“Lo udah bangun?” tanya Langit datar.

“Udah kak,” balas Bhumi khas dengan senyumannya.

Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam Jean bertanya, “Lo pulang naik apa Bhum?”

“Paling gojek nanti kak.”

“Bahaya, biar langit aja yang nganter,” ucap Jean yang membuat Langit tidak suka.

“Apaan sih lo.”

Bhumi tidak enak, melihat yang sepertinya tidak mau, “Gausah kak.”

“Udah sana anterin,” Jean mendorong Langit.

“Jean Lo tuh-” ucap Langit namun terpotong.

“Acara gue sama Jean yg urus, lo anterin dulu,” ucap Juni.

Tak mau panjang lebar Langit mengikuti kemauan temannya itu, “Yaudah ayo!”

Bhumi hanya cengengesan mengikuti Langit yang pergi duluan.

Tahun 2018, Bhumi Hasmita Hussein berhasil masuk kampus impiannya dengan jurusan yang ia inginkan, Astronomi ITB. Satu-satunya jurusan yang ada di Indonesia, bukan, bukan karena hal itu ia masuk dalam prodi ini, bukan karena langka juga bukan karena ikut-ikutan teman. Bhumi tidak punya teman, sejak SD ia selalu home schooling dan satu-satu temannya Nada yang rumahnya bersebelahan itu pindah satu tahun lalu.

Bhumi masuk dalam prodi ini karena papahnya, papahnya seorang ilmuan yang bekerja di LAPAN mengamati benda-benda langit kesukaannya, ia ingin menjadi seperti papahnya. Papah selalu menceritakan banyak hal tentang langit, semua benda-benda angkasa itu hampir setiap hari diceritakan pada Bhumi, dan Bhumi tidak pernah bosan mendengarnya karena ia sangat menyukainya.

Butuh waktu satu tahun Bhumi meluluhkan hati mamahnya agar mengizinkannya kuliah, normal selayaknya remaja seusianya, dan Bhumi berhasil menyakinkan mamahnya bahwa ia akan baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Memasuki dunia kampus benar-benar membuat Bhumi bahagia pasalnya hampir semua hal yang ia dapatkan benar-benar hal pertama yang Bhumi rasakan, misalnya teman, Bhumi pertama kali memiliki teman setelah Nada pergi. Dan siapa sangka Bhumi bertemu kembali dengan Nada yang masuk dalam prodi yang sama juga teman Nada yang bernama Tari dan sekarang mereka bertiga menjadi teman yang tak terpisahkan.

Berkumpul bersama teman, bekerja sama dengan kelompok dan merasakan kebersamaan yang para remaja muda rasakan di sekolah baru dapat Bhumi rasakan ketika ia masuk kuliah. Pertama kali duduk di meja dengan banyak teman di sekitarnya, mengajaknya mengobrol, dan terwana membuat Bhumi benar-benar bahagia bisa merasakannya.

Dan juga Bhumi pertama kali merasakan jatuh cinta pada seseorang. Sejak masa ospek Bhumi sudah jatuh cinta pada kakak tingkatnya yang bernama Langit Guntoro. Sosok laki-laki berperawakan jangkung dan kurus itu berhasil menghadirkan perasaan senang pada Bhumi. Hanya dengan melihatnya Bhumi sudah heboh dan berisik bukan main karena katanya jantungnya seperti ada orang takbiran di dalamnya, bergemuruh.

Laki-laki jangkung yang selalu mengenakan kemeja itu memiliki sikap super cuek dan dingin pada semua orang, bak memiliki tembok super tebal yang tak bisa dirobohkan bahkan dihancurkan sekalipun. Tapi itu tak henti membuat Bhumi untuk jatuh dalam pesona Laki-laki itu.

Suatu hari Bhumi sengaja menemui Langit dan dengan percaya diri mengatakan perasaannya pada laki-laki itu.

“Kak kayaknya Bhumi suka deh sama kakak,” ucap Bhumi ketika ia di hadapan Langit.

Sedang sosok laki-laki di depannya itu hanya memasang wajah dingin seperti biasa. “Gue gak suka sama lo,” jawabnya yang membuat hati teriris.

Bukan, itu bukan pertama kali jawaban yang Bhumi dengar, itu jawaban kesekian yang Langit berikan pada pernyataan Bhumi. Dan itu tidak akan membuat Bhumi mundur.

Anya kembali membuka surat dari akala. Ia belum mengerti isi surat akala, ia sudah bertanya pada rika murid terpintar dan menghasilkan nilai 1.792√5e. Masa jawabannya itu, artinya apa?

Tapi dari twtter katanya iloveyou

Akala suka sama gue? Masa akala suka?

Oke anya tidak boleh geer duluan, lagian bagaimana ia menghubungi laki-laki itu yang sepertinya sudah mengganti nomor ponselnya.

Tidak ingin diketahui kabarnya oleh anya.

Kemudian anya kembali membaca satu persatu rentetan kata itu dan menemukan kata check this out @untuknya pada pesawat kertas itu

Anya iseng mencari username itu di twitter tapi tidak menemukan apa-apa lalu ia beralih ke Instagram dan menemukan satu akun yang tidak ada pengikut ataupun yang diikutinya.

Dibionya tertulis khusus untuk perempuan bernama?

Bernama siapa sih?

Dengan iseng ia mengikuti akun itu dan tidak ada apa apa, karena anya belum diikuti balik, postingannya lumayan banyak dan anya penasaran.

Sudah satu bulan lebih ia mulai terbiasa tanpa akala, tapi hidupnya seperti tidak ada gairah, sekolah, mading, les, sekolah, mading, les meski sesekali main bersama temannya, Anya merasa sepi.

Anya mengecek ponselnya, karena notif chatting dari aplikasi berwarna hijau itu berisik sekali, namun tiba-tiba ada notifikasi dari Instagram.

@untuknya menerima permintaan pertemanan anda

Anya membeku melihat postingan-postingan di dalamnya.

“Jadi selama ini?”

Anya mengirim sebuah direct message pada akun itu

Ini akala?

Maksudnya apa?

Lo suka sama gue?

Dan entah kapan laki-laki itu akan membalasnya.

Anya tidak sabar, sesampainya di ruang kelas yang masih sepi ia membuka surat itu.

Perlahan anya membuka amplop biru itu, menarik selembar kertas di dalamnya dan ia buka.

Kata pertama yang menjadi pembuka surat itu,

Dear anya

Maaf

Gue minta maaf anya, maaf untuk apa yang udah gue lakuin ke lo, maaf kalo gue banyak salah, maaf kalo gue ngajarin lo sambil marah-marah, pokoknya maaf untuk semuanya hehe

Dan maaf kita ga bisa ketemu untuk terakhir kalinya

Gue harap lo selalu bahagia ya, oh lo udah bahagia ya sekarang, lo udah balikan kan sama mantan lo? Ga sia-sia berarti kita pura-pura pacaran.

Tapi gue harap kalo misal, misal lo putus lagi sama kak jian jangan ajak orang pura-pura pacaran lagi, ntar kayak gue. Masih banyak cowok selain kak jian oke?

Gue sebenarnya pengen jawab atas pertanyaan lo soal bulan, mungkin sekarang udah ga penting buat lo, mungkin menurut lo itu cuma kesalahan, tapi gue pengen jawab disini, lewat kertas ini dan jawaban gue ada di dalam pertanyaan ini.

Berapa hasil 128√e980, jika dibuka akar kuadratnya

Itu jawaban gue, sengaja biar lo mikir.

Sebuah tangan merebut kertas dari tangan anya, itu ulah Chandra yang baru aja tiba di kelasnya.

Chandra membacanya dan anya hanya pasrah membiarkan laki-laki tengil itu tahu isi suratnya.

“Oh dari Akala,” ucapnya mengangguk-anggukkan kepala

“Jadi gini orang pinter kalo ngasih surat?”

“Gue gak ngerti.”

“Ini jawaban apa kok disuruh mikir.”

Ucapan-ucapan Chandra membuat anya memutar bola matanya kesal dan perlahan siswa-siswi yang lain mulai memadati kelas,

“Balikin.”

Chandra menyerahkan surat itu, “Nih selamat menyelesaikan teka-teki.”

Hari senin, tanpa akala ruang jurnalis pagi ini sepi, biasanya ia selalu manjadi yang datang pertama di ruang jurnalis dan sekarang anya sendiri.

Anya masih berdiri di ruangan itu menatap sekeliling, biasanya akala sudah duduk di meja itu, anya menatap sebuah meja yang masih rapih.

Tiba-tiba ia merasa ingin menangis namun belum sampai air matanya jatuh seseorang mengagetkannya.

“Kenapa lo?” tanya seseorang itu, juang.

Mata anya yang sudah berkaca-kaca kembali ia netralkan agar air matanya tidak jatuh.

“Nih dari akala,” juang menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda.

“Lo dikasih surat gue ga dikasih apa-apa temen sialan emang,” gerutu juang pada laki-laki yang meninggalkannya itu.

Anya mengambil surat itu.

“Saran dari akala bukanya dirumah aja, dikamar, pas sendirian, biar kalo lo pusing tinggal tidur katanya.”

“Makasih ya.”