surat?
Hari senin, tanpa akala ruang jurnalis pagi ini sepi, biasanya ia selalu manjadi yang datang pertama di ruang jurnalis dan sekarang anya sendiri.
Anya masih berdiri di ruangan itu menatap sekeliling, biasanya akala sudah duduk di meja itu, anya menatap sebuah meja yang masih rapih.
Tiba-tiba ia merasa ingin menangis namun belum sampai air matanya jatuh seseorang mengagetkannya.
“Kenapa lo?” tanya seseorang itu, juang.
Mata anya yang sudah berkaca-kaca kembali ia netralkan agar air matanya tidak jatuh.
“Nih dari akala,” juang menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda.
“Lo dikasih surat gue ga dikasih apa-apa temen sialan emang,” gerutu juang pada laki-laki yang meninggalkannya itu.
Anya mengambil surat itu.
“Saran dari akala bukanya dirumah aja, dikamar, pas sendirian, biar kalo lo pusing tinggal tidur katanya.”
“Makasih ya.”