hiupiuuu

Setelah selesai mengajari anya. Akala ingin sekali bertanya terkait pertanyaan yang ada dibenaknya yang mengganggu itu. “Anya, lo balikan sama kak jian?” akhirnya pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutnya. “Kenapa?” “Ya gapapa, Cuma nanya.” “Gue bingung sama perasaan gue sendiri.” “Menurut lo gimana? Dia minta balikan tapi gue bingung.” “Ya terserah lo.”

Setelah menghabiskan batagor yang dipesan. Anya pergi meninggalkan kak Jian menuju ruang eskul jurnalis.

Waktu istirahat hampir habis, dengan langkah gontai dan malas ia berjalan ke ruang jurnalis yang berada di sebelah ruang pramuka.

Ruangannya tidak besar hanya sekitar 1,5mx1,5m dengan satu meja dan beberapa kursi.

Biasanya ketika rapat mereka lebih suka duduk lesehan di lantai atau mencari ruang kelas yang sudah sepi atau di koridor kelas.

Anya membuka pintu dan hanya ada Akala di dalam ruangan.

“Lo manggil gue?” tanya Anya menghampiri Akala.

“Ada apa?” tanya Anya lagi ketika sudah berada di samping Akala yang sedang menulis entah apa di kertas yang berantakan di meja.

Akala hanya menoleh melihat Anya berdiri di sampingnya.

“Siapa yang manggil?” Akala balik bertanya dengan raut muka datar.

“Gue gak manggil lo,” tambahnya.

“Hah! Ga manggil?” tanya Anya.

Anya kembali memastikan, “Tapi tadi ada adik kelas katanya gue disuruh kesini sekarang,” jelasnya.

“Iseng kali,” balas Akala.

”Serius lo gak manggil gue?” tanya Anya sekali lagi.

Akala hanya menggelengkan kepalanya dan kembali membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja.

“Ish awas aja kalo tuh anak kalo ketemu lagi,” gerutu Anya yang membuat Akala tersenyum tipis, sangat tipis hampir tidak kelihatan senyum.

“Pulang sekolah rapat,” ucap Akala mengingatkan Anya dan kemudian pergi meninggalkan Anya.

Melihat kelakuan Akala, Anya hanya mencebikan bibirnya kesal. Ia menyusul Akala yang pergi meninggalkannya sendirian.

Akala ke kantin bersama juang hendak membeli air minum namun melihat anya bersama jian makan di kantin. “Dek sini deh,” panggil akala pada adik kelasnya yang lewa di hadapannya. “Kenapa kak?” “Kaka mau minta tolong, tolong bilangin kak anya, yang itu,” tunjuk akala pada seorang perempuan yang bersama kak jian itu. “Bilangin sama dia disuruh kak akala ke ruang jurnalis.” Adik kelasnya itu menuruti perintah akala, menghampiri anya yang tengah bersama kak jian “Kak Anya ya?” tanyanya. Anya melihat gadis itu dan mengangguk, “Iya.” “Kakak dipanggil Kak Akala di ruang jurnalis.” “Mau ngapain?” tanya Anya dan dijawab dengan gelengan kepala oleh adik kelasnya itu “Yaudah nanti gue kesana,” tambahnya. “Sekarang katanya Kak,” adik kelasnya itu kembali berujar. “Iya nanti kesana.”

“Anya,” panggil akala ketika anya memasuki ruang jurnalis.

“Kenapa?” perempuan itu bertanya.

belum sempat akala bicara,

“Anyaa,” sapa kak jian yang memunculkan wajahnya di balik pintu ruang jurnalis.

“Bentar ya, kak jian di depan,” ucapnya pada akala, akala hanya mengangguk.

Perempuan itu keluar menghampiri kak jian, muka akala muram, “Dia balikan lagi?”

Tidak lama setelahnya perempuan itu kembali dengan senyum yang mengembang, dan membawa kotak bekal.

“Oh iya lo mau ngomong apa?” tanya anya.

“Oh ga jadi gue lupa mau ngomong apa.”

“Oh yaudah.”

Anya duduk di meja, jam masih menunjukkan pukul 7, ia membuka kotak bekal dari kak jian dan memakannya di dalam ruangan bersama akala.

Anya menatap akala yang memasang muka kanebonya, “Lo udah sarapan?” tanya anya.

“Udah,” jawab laki-laki itu tanpa menoleh ke arahnya.

“Kayaknya kata lo bener deh, gue cuma terbiasa sama lo dan hati gue masih buat kak jian.”

Akala sudah berada di rumah anya, sudah mengajari anya dan tinggal memastikan perempuan itu paham apa yang ia jelaskan dengan memberikan anya soal untuk di kerjakan.

“Gue ke toilet bentar ya,” ucap akala sebelum dirinya pergi ke toilet.

Selama tadi belajar anya mencoba menetralkan jantungnya yang sembarangan lari marathon,

“Ga, gue ga boleh suka sama akala, oke b aja b aja b aja,” mantra yang ia ucapkan dalam hati sedari tadi.

Namun anya melihat di mejanya terdapat sebuah buku yang terbuka menampakkan tulisan dari sang pemilik buku.

Anya penasaran, mengambil buku itu, ia tutup, sampulnya berwarna biru seperti buku diary dan rasanya ia tidak punya buku itu.

“Jangan-jangan punya akala? Masa akala nulis diary?” pikir anya.

Rasa penasaran anya semakin meningkat, Anya kembali membukanya, lembar pertama berisi puisi, kedua, ketiga masih sama, sepertinya ini kumpulan puisi yang akala buat.

Tapi

Tunggu

Anya kembali membaliknya ke halaman pertama, kedua, dan seterusnya ada tanda pesawat kertas yang rasanya tidak asing bagi anya.

“Ah iya, puisi di mading,” terkanya.

“Jadi itu akala?” ucap anya masih tidak percaya.

Tidak lama setelah itu Akala datang menyambar buku yang dipegang anya dengan muka ditekuk, tidak suka barangnya dipegang orang lain.

“Eh sorry ga sengaja,” ucap anya

“Lain kali gausah kepo,” sembur akala

“Jangan sembarangan pegang barang gue,” tambahnya tidak suka.

“Ish ya maaf,” anya berdesis.

Akala menyimpan buku itu dalam tasnya dan anya kembali mengeluarkan pertanyaan, “Itu lo yang buat? Buat siapa sih?”

“Pasti beruntung banget orang yang lo suka itu.”

“Siapa sih?” tanya anya lagi

“Fanya ya?” tebak anya.

“Gue bilang gausah kepo.”

“Tapi gue penasaran.”

“Lanjut belajar atau gue pulang?”

“Lo pulang aja sana,” usir anya yang niatnya bercanda malah ditanggapi serius oleh akala.

Akala mengambil tasnya bersiap untuk pulang, “Yaudah gue pulang.”

“Ish gue bercanda.” Anya menarik lengan akala.

Anya sedang mengerjakan beberapa soal yang akala berikan, sedang laki-laki itu malah bermain bersama cello, kucing kesanyangan anya.

Mengapa akala terlihat menggemaskan dimatanya ketika bermain bersama kucingnya itu.

“Lo katanya ga suka kucing, kenapa nempel banget sama cello,” cibir anya.

“Cello lucu, ga kaya kucing lainnya,” balas laki-laki itu tanpa menoleh pada anya.

“Emang kalo kucing lain kenapa?”

“Nyebelin.”

Keduanya kembali hening, anya kembali mengerjakan soal matematika yang di minta akala dan laki-laki itu masih bersama kucingnya.

“Ini kenapa susah sih soalnya?” celetuk anya mencoba mengalihkan perhatian laki-laki itu.

Namun akala tidak mendengarnya dan masih bermain dengan cello.

“Kenapa ya gue benci banget sama matematika,” ucap anya gusar karena diabaikan akala, dan kali ini berhasil membuat akala menoleh.

Tatapannya bertemu dengan manik akala dan dengan bodohnya jantungnya malah berdebar dengan kencang.

Sebenarnya dirinya kenapa sih?

Padahal kemarin-kemarin ia masih menangisi kak jian.

Dia ga mungin suka kan sama akala?

Masa dia suka sama laki-laki itu?

Anya menepis semua pikirannya, kembali menyadarkan dirinya.

“Kalaupun lo ga bisa dan ga jago di matematika, jangan benci dia Nya, karena kalau kamu benci kamu ga akan pernah bisa memahaminya,” jelas laki-laki itu mendekat pada anya.

“Belajar matematika itu harus sabar, pelan-pelan, kamu harus kenal sama konsepnya, bukankah dari kenal kamu bisa suka, sayang bahkan cinta sama seseorang begitu juga dengan matematika Nya,” lanjut akala panjang.

“Ya tapi tetap aja susah,” anya kembali membantah.

Dan Akala kembali menjelaskan ulang sambil mengerjakan satu soal, sialnya anya malah fokus memperhatikan muka akala yang sedang menjelaskan daripada mendengarkannya.

“Akala ganteng banget kalo lagi ngajarin.”

“Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan matanya-“ batinnya berhenti karena Akala menoleh dan memergoki anya yang sedang melihatnya.

“Lo dengerin ga sih?”

“Denger kok.”

“Perhatiin bukunya, bukan muka gue,” celetuk laki-laki itu

“Emang muka gue yang gue coret-coret.”

Akala menerangkan satu soal untuk ia kerjakan, mencoret-coret pada buku di depannya.

“ Kenapa lo pinter banget?” tanya anya ketika akala berhasil mengerjakan satu soal dengan mudahnya.

“Ck, gue tuh ga pinter tapi gue rajin belajar.”

“Anya, di dunia ini tuh ada dua tipe orang, pertama dia emang pintar dari lahir dan kedua dia pintar karena rajin,” ucap akala.

“Tapi gue bukan keduanya,” balas anya yang membuat akala tersenyum.

Dan lagi-lagi anya tersihir oleh senyum itu.

Setelah memasuki ruangan anya melepas genggaman akala, akala menoleh dan sekarang posisi mereka berhadapan.

“Sorry, gue salah ya?” tanya akala melihat mimik muka anya cemberut.

Anya menggelengkan kepalanya lemah.

“Lo masih suka sama dia?” tanya akala dan anya kembali menggelengkan kepalanya.

“Udah ngga? bagus dong,” ujar akala.

“Maksud gue gatau!” bantah anya.

“Lo mau balikan?” lagi-lagi akala bertanya namun tidak dijawab oleh perempuan di hadapannya itu.

Anya hanya diam, entah rasanya aneh, jantungnya malah berdebar ketika dekat dengan sosok laki-laki di depannnya ini.

“Anya,” suara itu berasal dari mulut kak jian yang berlari ke arahnya ketika anya memasuki ruang jurnalis.

Sesampainya laki-laki itu di hadapan anya, ia memengang lengan anya, “Anya gue serius.”

“Kak aku ga mau ngomong sama kaka,” Anya melepas tangan kak jian.

Anya kembali hendak memasuki ruangan tapi lagi-lagi dihentikan kak jian, “Anya, kasih gue kesempatan. Kaka janji ga akan ninggalin kamu lagi,” ucapnya.

“Bisa kita ulangi sekali lagi?”

“Kak,” ucap anya lirih melepaskan tautan tangan kak jian namun kak jian mangeratkan pegangannya.

“Kak lepas, aku ga mau kak trisha salah paham lagi,” ucap anya meringis karena pegangan tangan kak jian semakin erat.

“Anya, kaka ga ada apa apa sama trisha,” jelas kak jian.

Akala yang hendak memasuki ruang jurnalis melihat anya yang sedang berusaha melepaskan tangan kak jian.

“Lepas,” Akala melepaskan tautan tangan itu.

“Gausah ganggu anya, dia pacar gue sekarang,” ucap akala.

Jian memasang muka tidak percaya, “Seriously, gue ga percaya.” ucapnya dengan nada meledek.

“Kita emang pacaran kak,” sahut anya.

“Gue ga percaya,” ucap kak jian lagi.

“Terserah lo mau percaya atau ga,” ucap akala sebelum menarik tangan anya masuk dalam ruang jurnalis.

Istirahat jam pertama berbunyi, Anya bergegas ke kantin untuk membeli minum, sebab dari tadi ia merasa haus, tenggorokannya kering dan ia lupa membawa air minum.

Sesampainya di kantin ia mengambil botol air mineral dan memberikan uang pas pada Bu idah penjual kantin.

“Anya,” panggil seseorang yang membuat Anya menoleh dan

“Byurrrr!”

Wajah Anya disiram es jeruk oleh perempuan yang memanggilnya tadi.

Anya mengelap wajahnya dan melihat kak trisha di depannya.

“Kak, apa-apaan sih,” ucap Anya marah.

“Lo yang apa-apaan, udah diputusin masih aja kecentilan,” balas Trisha menyindir Anya.

Namun tiba-tiba kak Jian datang menghampirinya, “Anya lo gapapa?” Tanya kak Jian.

“Lo apa-apaan sih Trish,” kak jian memarahi Trisha.

“Dia yang kegatelan sama kamu kan? Jian kamu milik aku sekarang,” jelas Trisha.

“Gue bukan milik lo Tris,” ucapan Jian membuat Trisha marah dan menarik rambut Anya.

Anya hanya meringis.

“Lo perempuan gatel, berhenti ganggu Jian,” Trisha masih menjambak rambut Anya.

“Kak,” Anya meminta tolong pada kak Jian.

“Trisha berhenti!” Jian berteriak marah membuat Trisha berhenti menjambak rambut Anya.

“Ayo pergi Nya,” Jian menggenggam tangan Anya.

Sebelah tangan Jian yang lain digenggam Trisha, “Jian.”

Jian berhenti.

Akala yang sedari tadi melihat kejadian itu menghampiri Anya.

“Lepas,” Akala melepaskan tangan Jian pada pergelangan tangan Anya.

Akala membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkannya pada bahu Anya.

“Lo gapapa?” tanyanya.

Anya hanya mengangguk, lalu Akala membawanya pergi dari kantin.


“Hiks hiks,” tangis Anya pecah ketika di dalam toilet.

Dan Akala masih menunggunya di depan pintu toilet cewek itu.

Sudah hampir 20 menit Anya di dalam, sebentar lagi bel masuk berbunyi.

Akala yang berdiri ingin masuk namun ragu, langkahnya memasuki toilet namun belum memasuki pintu ia kembali berbalik.

Dirasa sudah sepi karena tidak ada yang masuk keluar toilet ia memberanikan dirinya masuk.

“Lo ngapain masuk,” tanya Anya di depan wastafel.

Akala terkejut, “Ya lo lama.”

“Pergi aja gausah tungguin gue,” ucap Anya.

Namun Akala tidak bergeming.

Anya mencuci wajahnya, “gue menyedihkan banget ya?” ujarnya melihat pantulan dirinya di cermin, ia berantakan.

Sepulang sekolah dan selesai mengurus mading beserta perintilannya, Anya bersama Akala menjemput Akila dirumahnya.

Sesampainya di rumah bercat abu-abu itu seorang gadis kecil muncul dari balik pintu mengenakan dress putih yang tampak lucu dikenakannya.

“Ih cantik banget sih,” ucap anya gemas mencubit pipi akila.

“Kaka juga cantik,” balas akila.

“Yaudah yuk jalan,” akala mengajaknya pergi karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore takut pulangnya kemalaman.

Hari ini cuaca sedang cerah, langit biru dan putih bercampur membentuk gradasi yang cantik.

Tiba di mall anya menggandeng tangan mungil akila menuju ke arah timezone. langkah anya terhenti, ia melihat kak jian bersama kak trisha.

“Kak kenapa?” cicit akila membuat akala menoleh melihat anya yang terdiam.

Akala mengikuti arah pandang anya, “Gausah dilihatin, ayo!” ajak akala menggandeng tangan anya.

Setibanya dia area timezone akila sudah menghamburkan dirinya pada medan perang itu, sedangkan akala dan anya berdiri di sekitarnya mengamati Akila takut hilang.

“Eh kita taruhan yuk,” ajak anya tiba-tiba.

“Taruhan apa?”

“Lo lihat itu,” Anya menunjuk seorang laki-laki dan perempuan seusianya yang tengan bermain claw machine atau mesin capit boneka.

“Kita taruhan, kalo cowok itu dapet boneka, gue bakal turutin apapun tiga permintaan lo,” jelas anya.

“Trus kalo ga dapet boneka?”

“Lo harus turutin tiga permintaan gue.”

“Apaan, nggak!” tolak akala karena besar kemungkinannya cowok itu tidak akan dapat boneka.

“Nggak adil dong, itumah udah pasti ga bakal dapet.”

“Ish ayo dong, cemen banget jadi cowok, cuma taruhan doang.” Anya memanasi akala.

“Yaudah kita liat aja.”

Laki-laki itu mulai memasukkan koin, mengarahkan pencapit dan hap

“Dapet.” Ujar akala ketika pencapit itu berhasil mencapit boneka.

“Tunggu dulu, siapa tau jatoh,” pekik anya percaya diri.

Dan boneka itu perlahan terangkat sampai masuk ke lubang keluar.

“Yesh gue menang haha,” tawa akala senang.

Anya bengong melihat akala tertawa lebar sampai giginya terlihat, “Lo ketawa?”

Kalian semua harus lihat akala ketawa, dunia harus tahu senyum akala adalah senyum tercantik yang pernah ia lihat.

“Eh barusan gue ngomong apa?” batin anya

Akala kembali menormalkan wajahnya lagi seperti kanebo kering.

“Lo harus turutin kemauan gue,” ujarnya mengingatkan anya.

Anya hanya memasang muka kesal, ia yang ngajaikin taruhan ia yang kalah.

“Gue kayaknya besok mau makan ayam deh,” ucap akala memberi kode.

“Oke nanti gue bawain ayam hidup.”

“Buatin gue bekel ya besok,” pintanya.

“Gausah aneh aneh gue ga bisa masak.”

“Katanya minta apa aja, tiga permintaan loh itu baru satu.”

“Ck, yaudah nanti gue tambahin racun di dalemnya mau?”

“Yaudah biar gue keracunan terus mati terus gentayangin lo.”