Apa ada alasan untuk tidak menyukai langit?

Kalau kamu tanya kenapa Bhumi bisa suka sama Kak Langit maka Bhumi pasti akan menjawab, “Gak tau.” Ya dia gatau kenapa bisa suka sama Kak Langit yang kalau dipikir-pikir memang sikapnya nyebelin, dingin dan tak tersentuh. Bhumi gak punya alasan mengapa ia sangat menyukai Kak Langit yang jelas ia bahagia saat melihat langit yang berwujud manusia itu ataupun langit yang di atas.

Selama perjalanan pulang tadi Bhumi tak banyak bicara, selain karena jantungnya yang kurang ajar seperti mau lompat, Bhumi juga enggan bertanya karena melihat Kak Langit yang sepertinya enggan untuk ditanya-tanya bisa dilihat dari mukanya yang galak, tapi mukanya memang begitu tanpa senyum padahal senyum tuh gratis.

Meski ada banyak topik di kepalanya yang ingin ia tanyakan, seperti apa lagu kesukaan, makanan favorit, sampai pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu hanya tersimpan di kepala tanpa minta di keluarkan. Bhumi hanya ingin menikmati momen yang sulit terjadi ini, berharap waktu berjalan pelan-pelan karena ingin lama-lama bersama Kak Langit.

“Rumah lo dimana?” hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Kak Langit yang dijawab oleh Bhumi dengan arahan di setiap pengkolan gang, “Belok kiri…”

“Lurus..”

“Dikit lagi sampe.”

“Belok ke kanan.”

“Sampai.”