Sebuah permintaan untuk berhenti menyukai

“Aku akan bicara hal egois jadi tolong dengerin Bhumi, Kak,” pinta Bhumi ketika ia berhadapan dengan Kak langit.

Tekadnya sudah bulat, ia akan tetap nekat menyukai seseorang yang ada dihadapannya sekarang. Ia tidak akan berhenti sekalipun seluruh dunia tidak mendukungnya.

Bhumi menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Soal kemarin Bhumi anggap Kak Langit gak pernah kirim chat itu,” ucapnya pelan.

“Dan Bhumi gak akan pernah berhenti Kak, Bhumi gak mau berhenti, Bhumi akan tetap disini menunggu sampe Kak Langit suka sama Bhumi.”

“Jadi tolong jangan minta Bhumi buat berhenti suka sama Kak Langit.”

Laki-laki di hadapannya itu tidak merespon apapun, dia hanya diam dengan muka datar seperti biasa.

“Kak, Bhumi akan mundur dengan sendirinya jika Bhumi ingin Kak, dan untuk sekarang Bhumi belum mau berhenti.”

“Bhum, gue gak suka sama lo.” Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut laki-laki dihadapannya itu.

“Gue gak bisa suka kalo bukan gue yang suka duluan,” jelasnya.

“Gue gak mau nyakitin lo Bhum.”

“Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari gue.”

“Tapi Bhumi sukanya sama kak Langit, sama seperti Kakak yang gak bisa suka ke Bhumi, Bhumi pun gak bisa suka sama orang lain.”

Kak Langit kembali membalas, “Bhum, lo cantik, lo pantes dicintai dan bukan gue orangnya.”

“Stop buat suka sama gue, berhenti chat gue,” pintanya serius.

“Gak Kak, Bhumi gak akan nyerah.” Bhumi masih tetap kekeh dengan pendiriannya.

Rupanya laki-laki di depannya ini mulai jengah dengan Bhumi, terlihat dari mimik wajahnya yang sedikit kesal karena Bhumi yang ngeyel.

“Bhum please deh gue minta lo baik-baik gini biar gue gak nyakitin lo terlalu dalam,” ucapnya lagi.

“Gue gak suka sama lo.”

“Gue suka sama orang lain.”

DUARRR

Bagai disambar petir Bhumi terkejut, rupanya ada orang lain yang menempati hati Kak Langit pantas saja pintunya tertutup rapat.

Hati Bhumi sakit, matanya berkaca-kaca seakan air matanya minta dikeluarkan.

“Jadi gue mohon tolong berhenti ya?”

Selepas itu Kak Langit pergi meninggalkan Bhumi disambut hujan yang tiba tiba turun bersamaan dengan air mata Bhumi yang perlahan jatuh.

Bhumi masih diam di tempat, tekadnya yang bulat di awal perlahan memudar karena perkataan Kak Langit, “Apa benar aku harus berhenti?”

Ah bahkan saat langit hujan pun Bhumi tetap menyukainya, sama seperti aku menyukaimu Kak.