pingsan
Ditengah suasana konser yang meriah, setelah ikut teriak-teriak menyanyi tiba-tiba Bhumi merasa pening. Kepalanya seakan berputar, pandangannya perlahan mengabur dan bhumi tidak ingat apa-apa setelahnya.
Bhumi pingsan dan semua orang menatap ke arah Bhumi.
“Bhum,” panggil Nada saat bhumi tidak sadarkan diri.
“Bhumi,”tari ikut membantu nada.
“Bhumi lo kenapa?”tanya Nada lagi.
“Panitia, panggilin panitia,” teriak salah seorang penonton.
“Panitia ada yang pingsan disini.”
Tak lama setelahnya langit datang bersama panitia lainnya.
“Kak tolong kak,”ucap Nada, kemudian langit mengangkat dan membawa bhumi keluar dari kerumunan konser diikuti Nada dan Tari.
Sesampainya di dalam ruang BEM, langit menidurkan Bhumi di sofa.
“Gue panggilin anak ksr dulu ya,” ucap langit sebelum meninggalkan ruangan.
Selepas kepergian langit, Nada mencari sesuatu di dalam tas Bhumi, menemukan sebotol obat, dan tak lama setelah itu dua anggota ksr datang.
Setelah kondisi denyut nadi Bhumi diperiksa, Bhumi dibiarkan istirahat dan tak lama setelahnya Bhumi menggeliat, perlahan membuka matanya.
“Bhum kamu bangun?” Nada menghampiri Bhumi.
“Minum dulu,” ucap Nada sembari menyodorkan segelas air.
“Sorry ya Bhum, gara-gara gue ngajakin lo jadi kayak gini,” sesal Nada.
“Gapapa Nad, gue malah seneng kok.”
“Oh iya tadi kak langit yang bawa lo kesini,” ucap Tari yang membuat Bhumi tersenyum.
“Kak langit yang bawa gue?” tanyanya Girang.
Bhumi cengengesan, “Gue tadi pingsan gimana? Masih cakep kan?”
“Ish lo mah,” kesal Nada yang sedari tadi khawatir kondisi Bhumi, sekarang anaknya malah cengengesan bertanya cakep atau tidak ketika pingsan.
“Ya kan takut kak langit ilfeel sama gue,” ujarnya yang membuat kedua temannya itu menggelengkan kepala tak habis pikir.
“Lo beneran gapapa?” tanya Tari memastikan temannya itu baik-baik saja.
“Gapapa Tar.”
“Gue telfon mamah lo ya?” tanya Nada.
“Nad, gue okay jangan bilang mamah ya.”
Pintu terbuka dan Langit datang bersama dua temannya Jean dan Juni.
“Lo udah bangun?” tanya Langit datar.
“Udah kak,” balas Bhumi khas dengan senyumannya.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam Jean bertanya, “Lo pulang naik apa Bhum?”
“Paling gojek nanti kak.”
“Bahaya, biar langit aja yang nganter,” ucap Jean yang membuat Langit tidak suka.
“Apaan sih lo.”
Bhumi tidak enak, melihat yang sepertinya tidak mau, “Gausah kak.”
“Udah sana anterin,” Jean mendorong Langit.
“Jean Lo tuh-” ucap Langit namun terpotong.
“Acara gue sama Jean yg urus, lo anterin dulu,” ucap Juni.
Tak mau panjang lebar Langit mengikuti kemauan temannya itu, “Yaudah ayo!”
Bhumi hanya cengengesan mengikuti Langit yang pergi duluan.