Bertemu lelaki kardus
Siang itu, Bhumi meminjam buku di perpustakaan, terpaksa sendirian karena ditinggal Nada dan Tari yang sudah meminjam buku duluan.
Tiba di dalam perpustakaan ia langsung menuju ke rak astronomi dimana buku-buku seputar dunia langit itu berjejer.
Hampir lima belas menit Bhumi mencari bukunya tetapi tidak kunjung menemukkannya juga.
Bhumi menghubungi Nada, hendak bertanya dimana letak bukunya, pasalnya kata Nada bukunya masih ada. Namun sialnya tak bisa terhubung karena pagi tadi Bhumi mendapat pesan bahwa kuota internetnya habis.
Dengan segera bhumi menyalakan wifi berharap langsung bisa masuk, namun nyatanya ada passwordnya, dan ia tidak tahu apa passwordnya. Maklum mahasiswa baru dua bulan di kampus ini.
“Kak ini password wifinya apa ya?” tanya Bhumi pada seorang laki-laki yang berdiri tak jauh dari raknya.
”Nama kamu siapa?” laki-laki itu malah bertanya.
“Oh Bhumi kak,” jawab Bhumi sopan.
“Maksud gue itu passwordnya,” jelas laki-laki itu yang membuat Bhumi malu.
“Oh passwordnya aneh banget,” Cicit Bhumi yang masih bisa didengar seseorang di sebelahnya.
“Huruf kecil semua ga pake tanda tanya.”
Bhumi memasukkan passwordnya dan benar terhubung.
“Udah masuk, makasih ya kak,” ucap Bhumi.
Belum beranjak sepenuhnya laki-laki itu menghentikan Bhumi, “Eh gue boleh pinjem ponsel lo ga?”
“Gue lupa naro ponsel dimana,” lanjutnya.
Tanpa pikir panjang Bhumi langsung menyerahkan ponselnya pada laki-laki itu,
“Oh boleh, nih.”
“Gue minta telfon ya,” izin laki-laki tadi mengambil ponsel Bhumi. Bhumi hanya menganggukkan kepala, “Pake aja.”
Namun suara operator terdengar, “Maaf pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.”
Bhumi malu dan rasanya ia ingin menghilang saja dari hadapan laki-laki itu.
“Telfon wa aja kak, biasanya datanya nyala ga?” saran Bhumi ditengah kekonyolan itu.
Laki-laki itu mengikuti ucapan Bhumi dan tak lama dering ponsel berbunyi dari dalam kantong celana milik laki-laki itu, “Oh disini rupanya.” Laki-laki itu merogoh saku celananya.
Laki-laki itu mengembalikan ponselnya pada Bhumi, “Thanks ya.” “Btw itu nomor gue, save ya.”
Bhumi hanya mengangguk-angukan kepalanya saja, ia merasa sedang ditipu oleh laki-laki kardus itu, ah entahlah bodo amat.
Bhumi beranjak meninggalkan laki-laki tadi menuju rak deretan buku astronomi namun laki-laki itu ternyata mengikutinya di belakang.
“Jangan lupa save ya,” ingatnya lagi.
“Iya nanti aku save.”
“Emang lo tau nama gue siapa?”
“Eh?” Bhumi menghentikan langkahnya menatap laki-laki itu.
“Sayang, tulis aja di kontaknya sayang,” candanya.
“Oh, oke.” Bhumi malas meladeni laki-laki kardus itu dan kembali mencari buku yang sedari tadi ia cari.
“Ck, Gue Abimana,” Laki-laki itu menyodorkan tangannya di depan Bhumi, rupanya jengkel karena ditanggapi Bhumi dengan datar.
“Tapi gapapa kalo kontaknya dinamain sayang, gue ikhlas,” lanjutnya.
Rupanya laki-laki itu berisik, sangat bawel. Bhumi kira penampilannya yang kalem tingkahnya pun ikut kalem, namun ternyata sangat berbanding terbalik. Benar kata pepatah sepertinya kita tidak boleh menilai orang dari covernya saja.
Tapi Bhumi kalo beli buku liat covernya dulu yang lucu, oke ini abaikan.
“Ck, oke Abi,” balas Bhumi mencoba masih ramah dengan lelaki itu.
“Iya umi.”
Perempuan itu menatapnya tidak suka.
“Nama lo Bhumi kan? boleh gue panggil umi?”
“Bhumi, panggil Bhumi aja.”