Bhumi pingsan
Meriah sekali acara konser hari ini, semua orang sangat menikmati terbukti dengan teriakan-teriakan mahasiswa yang ikut bernyanyi selama acara entah karena memang suka lagunya, relate sama keadaannya atau hanya teriak untuk meredakan stress dari tugas-tugas yang menumpuk.
Nada, Tari dan Bhumi pun ikut teriak sampai tenggorokannya terasa kering.
“Nad, ada minum ga?,” tanya Bhumi pada Nada di sebelahnya.
“Ga ada gue lupa beli, Lo haus?”
Bhumi mengangguk.
“Gue juga haus,” ujar Tari kemudian mengajak Bhumi untuk membeli minum, “Yuk beli keluar.”
“Ini boleh keluar stage?” tanya Bhumi.
“Yang ga bolehin siapa?” Tari bertanya balik.
“Di belakang ada panitia.” Bhumi melihat Kak Langit, Jean dan teman-teman lainnya di belakang.
“Boleh bhum lo kira kita lagi ospek, ayo ah,” Nada mendahului keluar dari stage di ikuti oleh Bhumi dan Tari.
Setelah mendapat air minum ketiganya kembali ke stage namun tidak kembali ke tempat semula, karena sudah ada orang lain yang menempati. Jadi Nada, Tari dan Bhumi berada di posisi paling belakang, tak jauh dari posisi Langit dan teman-temannya.
“Kita disini ajalah, sumpek tau disana.”
“Sumpek atau karena ada ehem,” ledek Tari.
Bhumi hanya menyengir, konser hampir selesai namun tiba-tiba kepala Bhumi terasa pening, perlahan suara teriakan-teriakan itu mulai samar ia dengar, pandangannya mulai kabur dan Bhumi tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.
Bhumi pingsan.
“Bhum,” panggil Nada saat Bhumi tidak sadarkan diri.
“Bhumi,” Tari ikut membantu Nada.
“Bhumi lo kenapa” tanya Nada menepuk-nepuk pipi Bhumi.
“Panitia, panggilin panitia,” teriak salah seorang penonton.
“Panitia ada yang pingsan disini.”
Langit yang berada tak jauh dari posisi Bhumi langsung mendekat.
“Kak tolong kak,” ucap Nada kemudian Langit membawa Bhumi keluar dari kerumunan konser diikuti Nada dan Tari.
Langit membawa Bhumi ke ruang BEM karena jarak ke klinik kampus lumayan jauh. Langit menidurkan Bhumi pada sofa yang ada disana.
“Gue panggilin anak ksr bentar ya,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
Tak lama setelahnya beberapa anak ksr datang dan memeriksa kondisi Bhumi. KSR sendiri adalah korp sukarela yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus.
Setelah kondisi Bhumi di periksa, diberi minyak kayu putih tak lama setelahnya Bhumi menggeliat dan perlahan membuka matanya.
“Bhum lo sadar?” Nada yang sedari tadi khawatir menghela napas lega.
“Minum dulu,” ucap salah petugas ksr menyodorkan segelas air.
“Maaf ya Bhum, gara-gara gue ngajakin lo jadi kayak gini,” sesal Nada.
“Gue juga ya Bhum,” Tari mendekat ke Bhumi.
“Gapapa Nad, Tar aku malah seneng kok bisa nonton konser.”
“Oh iya tadi Kak Langit yang bawa lo kesini,” ucap Tari yang membuat Bhumi kegirangan.
“Kak Langit yang bawa aku?” Bhumi tak percaya membelakan matanya.
Bhumi cenfengesan, “Tadi aku pingsan gimana?” tanyanya.
“Masih cakep kan?”
“Ish lo mah!” kesal Nada yang sedari tadi khawatir kondisi Bhumi, sekarang anaknya malah cengengesan bertanya cakep atau tidak ketika pingsan.
“Ya kan takut Kak Langit ilfil sama aku,” ujarnya membuat kedua temannya itu menggelangkan kepala tak habis pikir.
“Lo beneran gapapa?” tanya Tari memastikan temannya itu baik-baik saja takutnya kepalanya kepentok batu.
“Gapapa Tar,” Bhumi tersenyum.
“Gue telfon mamah lo ya?” tanya Nada.
“Nad, aku okay jangan bilang mamah ya,” pintanya menghentikan Nada yang hendak menelepon Mamah Bhumi.
Pintu terbuka, Langit datang bersama dua temannya Jean dan Juni.
“Lo udah bangun?” tanya Langit.
“Udah kak,” balas Bhumi tak lupa dengan senyumnya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam, Jean bertanya, “Lo pulang naik apa Bhum?”
“Paling gojek Kak,” jawab Bhumi.
“Bahaya biar Langit aja yang nganter,” ucap Jean yang membuat Langit tidak suka.
“Apaan sih lo, kok gue,” Langit menolak.
Bhumi tidak enak melihat Kak Langit yang sepertinya tidak mau, “Gausah kak lagian ini masih sore kok.”
“Udah sana anterin.” Jean mendorong Langit
“Jean lo tuh-“ ucap Kak Langit namun terpotong
“Acara gue sama Jean yang urus, udah lo anterin dulu anak orang,” ucap Juni.
Tak mau panjang lebar langit mengikuti kemauan temannya itu, “Yaudah ayo.”
Bhumi hanya cengengesan mengikuti Kak Langit yang pergi duluan.