bhumi kangen

Pukul 8 malam, Bhumi masuk dalam ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi. Bhumi membiarkan dirinya berada dalam ruangan gelap itu. Dengan perlahan ia menyalakan sumber cahaya, dan sebuah lampu tidur sedikit menerangi kamar itu.

Sebuah kamar yang di dalamnya penuh dengan benda-benda langit, planet-planet mulai dari merkurius hingga neptunus bergantungan dari atap kamar itu, tak lupa dinding dan juga langit-langit kamar bercat hitam namun bertabur bercak bercak putih yang terlihat seperti bintang bintang, membuat siapapun yang masuk dalam ruangan itu seakan masuk dalam ruang angkasa.

Bhumi duduk di kursi yang di hadapannya terpampang miniatur-miniatur benda-benda langit milik papahnya. Suasana sendu dalam kamar itu membuat Bhumi perlahan memutar memori kenangan indah bersama papahnya sampai tak terasa air mata mengalir dari pipinya, Bhumi menangis.

Isakan Bhumi semakin kencang, sampai seseorang mengetuk pintu itu.

“Bhum, kamu di dalam?” tanya seseorang dari balik pintu.

Isakan itu semakin terdengar memilukan membuat Bayu masuk dalam ruangan itu dan mendapati Bhumi tengah menangis bertumpu dengan kedua tangannya di meja.

Bayu mendekati Bhumi “Kenapa?,” tanyanya tenang.

Bhumi tidak bergerak sama sekali, ia menangis, Bayu mendekap adik kesayangannya itu.

“Kak, Bhumi kangen papah.”