Pengakuan
“Kenapa ta,” tanya aeris ketika sudah berada di rooftop bersama Genta.
Genta menoleh dan tepat di sebelahnya Aeris berdiri.
Genta memandang suasana kota Jakarta sore hari ini dari atas rooftop ini, ia mengembuskan napas mencoba untuk menenangkan hatinya yang berdegup dengan kencang.
“Lo tahu ga arti nama gue apa?” tanya genta tiba-tiba yang membuat aeris mengeryitkan dahinya.
“Magenta?” balasnya.
Genta mengangguk menatap gadis yang memiliki rambut lurus itu.
“Apa memangnya?”
“Lo tahukan kalo magenta itu campuran dari warna merah dan ungu.”
Aeris mengangguk kemudian menatap genta mencari jawaban dari pernyataan laki-laki itu.
Genta mengalihkan pandangannya dari perempuan itu pada bangunan bangunan yang terhampar di depannya.
“Sebuah warna yang tidak bisa dikatakan cerah ataupun gelap, begitulah hidupku ai, penuh keraguan.”
“Tapi bagi gue magenta itu gelap, warna merah yang mendominasi tidak memberikan pengaruh banyak pada warna ungu di dalamnya, hidup aku gelap ai.” jelas laki-laki itu tanpa Aeris tahu akan kemana obrolan ini berjalan.
“Tapi di belakang namamu ada pijar yang berarti cahaya, cahaya yang akan menerangi hidup lo.”sanggah Aeris.
Laki laki itu kembali menatap Aeris,“Ya dan sekarang gue menemukan pijar yang gue cari,” ucap Genta membenarkan.
“Maksud lo?”Aeris tidak mengerti.
“Lo.”
“Lo maukan jadi pijar gue?”lanjutnya yang masih tidak mengerti oleh Aeris.
“Gue suka sama lo Ai,” aku genta yang membuat Aeris terkejut.
“Hah?”hanya itu yang keluar dari bibir Aeris.
“Gue suka sama lo,”ulangnya sekali lagi.
Pengakuan itu membuat aeris senang bukan maen, ia ingin sekali berteriak namun ia tahan.
“Gimana?”tanya Genta.
“Lo mau ga jadi pacar gue?”
Aeris masih tidak menanggapi karena saking senang dan kagetnya.
“Lo syok banget” Genta tersenyum melihat ekspresi Aeris melongo.
“Gapapa kok kalo lo jawab nanti.”
“Gak!” jawab Aeris.
“Gue mau jawab sekarang,” lanjutnya.
“Gue mau ta.”