Tempat favorit
Hari belum gelap, Genta mengajak Aeris ke sebuah tempat entah apa namanya namun dari atas sini ia bisa melihat bagaimana hiruk-pikuk kota Jakarta.

“Ini adalah tempat favorit aku ai,” ucap Genta.
“Kamu sering kesini?”
Genta mengangguk, “Tiap kali aku sedih aku selalu kesini.”
“Ini tempat apa? Kok tadi di bawah ada yg jualan?” Aeris penasaran pasalnya bangunan ini seperti rumah, namun bukan rumah tetapi ada penjual makanan dibawah.
Berbeda dengan suasana di bawah yang ramai pembeli, rooftop bangunan ini tidak digunakan, sepi, mungkin orang orang segan untuk naik ke atas.
“Dulu ini adalah sebuah cafee keluarga aku, tapi usahanya bangkrut dan sekarang disewakan sama Bu darti jadi tempat ini,” Genta menjelaskan.
“Oh gitu,” Aeris mengangguk anggukan kepalanya.
Keduanya sama-sama memandang hamparan bangunan di depannya.
“Ta, aku mau tanya deh?” Aeris mulai berbicara.
Aeris menatap Genta, “Kamu suka apa sih?”
“Kamu,” sahut Genta yang membuat pipi Aeris memerah.
“Ih! maksud aku kesukaan kamu?” tanyanya lagi.
“Ya kesukaan aku kamu.” ucapan Genta semakin membuat Aeris bertambah malu.
“Maksud aku, kan aku suka banget semangka, aku suka matcha, aku ga suka belajar tapi malah suka baca novel, kamu suka apa?” ucapnya menutupi saltingnya.
“Kayaknya aku ga tau banyak tentang kamu,” lanjutnya.
“Kamu mau tahu apa?” tanya Genta.
Akhirnya Genta menceritakan dirinya, dia paling benci mentimun, suka warna biru, dan kalian harus tau ini sih Genta paling takut sama ulet bulu, katanya bukan takut tapi geli. Dan masih banyak lainnya yg cukup Aeris tahu.
“Ai,” laki-laki itu menatapnya.
Tatapannya tulus, sangat tulus, ia merapatkan tubuhnya pada Aeris menepis jarak diantara keduanya.
Perlahan ia menundukkan wajahnya sampai hidungnya bertemu dengan hidung Aeris.
“Astagfirullah mas Genta,” ujar seseorang yang sontak membuat Aeris dan Genta memberi jarak.
“Eh maaf mas Genta, ganggu ya?” ujar laki laki yang Genta kenal anak Bu darti.