Ombrophobia
Sesampainya di cafe kenangan, mata Genta mencari perempuan itu di seluruh ruangan dan tertuju pada seorang wanita di meja paling pojok, sendirian.
Tubuhnya meringkuk dengan tangan menutup telinganya.
Hujan kali ini disertai petir dan kebiasaan perempuan pengidap ombrophobia itu rupanya masih sama seperti dulu, belum bisa mengendalikan dirinya dan berdamai dengan hujan.
Genta mengetahui semua yang terjadi dalam dunia perempuan itu, mengapa ia menjadi takut akan kehadiran hujan dan petir.
Genta sangat mengenalnya karena ia sudah berteman sejak kecil.
Hanya saja dua tahun kebelakang ini perempuan itu meninggalkannya dan menghilang dari pandangannya entah dengan alasan apa.
Genta menghampirinya, membuka jaketnya yang basah, lalu memeluk perempuan itu.
“Gue disini,” ucap Genta menenangkan.
Tubuh perempuan itu gemetar, air matanya menetes melihat genta di sebelahnya dan masih menutup telinga dengan tangannya.
“Gue takut, taa,” ucapnya dengan suara gemetar.
“Papah jahat taa, papah jahat,” racaunya.
Genta merogoh ipod dari sakunya, memasangkan pada telinga perempuan itu dan mengeraskan volumenya.
Perempuan itu perlahqn mulai tenang, membuka matanya sedikit, melihat genta dan kembali mengeratkan pelukannya.“Gue takut taa.”