menyedihkan
Istirahat jam pertama berbunyi, Anya bergegas ke kantin untuk membeli minum, sebab dari tadi ia merasa haus, tenggorokannya kering dan ia lupa membawa air minum.
Sesampainya di kantin ia mengambil botol air mineral dan memberikan uang pas pada Bu idah penjual kantin.
“Anya,” panggil seseorang yang membuat Anya menoleh dan
“Byurrrr!”
Wajah Anya disiram es jeruk oleh perempuan yang memanggilnya tadi.
Anya mengelap wajahnya dan melihat kak trisha di depannya.
“Kak, apa-apaan sih,” ucap Anya marah.
“Lo yang apa-apaan, udah diputusin masih aja kecentilan,” balas Trisha menyindir Anya.
Namun tiba-tiba kak Jian datang menghampirinya, “Anya lo gapapa?” Tanya kak Jian.
“Lo apa-apaan sih Trish,” kak jian memarahi Trisha.
“Dia yang kegatelan sama kamu kan? Jian kamu milik aku sekarang,” jelas Trisha.
“Gue bukan milik lo Tris,” ucapan Jian membuat Trisha marah dan menarik rambut Anya.
Anya hanya meringis.
“Lo perempuan gatel, berhenti ganggu Jian,” Trisha masih menjambak rambut Anya.
“Kak,” Anya meminta tolong pada kak Jian.
“Trisha berhenti!” Jian berteriak marah membuat Trisha berhenti menjambak rambut Anya.
“Ayo pergi Nya,” Jian menggenggam tangan Anya.
Sebelah tangan Jian yang lain digenggam Trisha, “Jian.”
Jian berhenti.
Akala yang sedari tadi melihat kejadian itu menghampiri Anya.
“Lepas,” Akala melepaskan tangan Jian pada pergelangan tangan Anya.
Akala membuka jaket yang ia kenakan dan menyampirkannya pada bahu Anya.
“Lo gapapa?” tanyanya.
Anya hanya mengangguk, lalu Akala membawanya pergi dari kantin.
“Hiks hiks,” tangis Anya pecah ketika di dalam toilet.
Dan Akala masih menunggunya di depan pintu toilet cewek itu.
Sudah hampir 20 menit Anya di dalam, sebentar lagi bel masuk berbunyi.
Akala yang berdiri ingin masuk namun ragu, langkahnya memasuki toilet namun belum memasuki pintu ia kembali berbalik.
Dirasa sudah sepi karena tidak ada yang masuk keluar toilet ia memberanikan dirinya masuk.
“Lo ngapain masuk,” tanya Anya di depan wastafel.
Akala terkejut, “Ya lo lama.”
“Pergi aja gausah tungguin gue,” ucap Anya.
Namun Akala tidak bergeming.
Anya mencuci wajahnya, “gue menyedihkan banget ya?” ujarnya melihat pantulan dirinya di cermin, ia berantakan.