why?

Anya sedang mengerjakan beberapa soal yang akala berikan, sedang laki-laki itu malah bermain bersama cello, kucing kesanyangan anya.

Mengapa akala terlihat menggemaskan dimatanya ketika bermain bersama kucingnya itu.

“Lo katanya ga suka kucing, kenapa nempel banget sama cello,” cibir anya.

“Cello lucu, ga kaya kucing lainnya,” balas laki-laki itu tanpa menoleh pada anya.

“Emang kalo kucing lain kenapa?”

“Nyebelin.”

Keduanya kembali hening, anya kembali mengerjakan soal matematika yang di minta akala dan laki-laki itu masih bersama kucingnya.

“Ini kenapa susah sih soalnya?” celetuk anya mencoba mengalihkan perhatian laki-laki itu.

Namun akala tidak mendengarnya dan masih bermain dengan cello.

“Kenapa ya gue benci banget sama matematika,” ucap anya gusar karena diabaikan akala, dan kali ini berhasil membuat akala menoleh.

Tatapannya bertemu dengan manik akala dan dengan bodohnya jantungnya malah berdebar dengan kencang.

Sebenarnya dirinya kenapa sih?

Padahal kemarin-kemarin ia masih menangisi kak jian.

Dia ga mungin suka kan sama akala?

Masa dia suka sama laki-laki itu?

Anya menepis semua pikirannya, kembali menyadarkan dirinya.

“Kalaupun lo ga bisa dan ga jago di matematika, jangan benci dia Nya, karena kalau kamu benci kamu ga akan pernah bisa memahaminya,” jelas laki-laki itu mendekat pada anya.

“Belajar matematika itu harus sabar, pelan-pelan, kamu harus kenal sama konsepnya, bukankah dari kenal kamu bisa suka, sayang bahkan cinta sama seseorang begitu juga dengan matematika Nya,” lanjut akala panjang.

“Ya tapi tetap aja susah,” anya kembali membantah.

Dan Akala kembali menjelaskan ulang sambil mengerjakan satu soal, sialnya anya malah fokus memperhatikan muka akala yang sedang menjelaskan daripada mendengarkannya.

“Akala ganteng banget kalo lagi ngajarin.”

“Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan matanya-“ batinnya berhenti karena Akala menoleh dan memergoki anya yang sedang melihatnya.

“Lo dengerin ga sih?”

“Denger kok.”

“Perhatiin bukunya, bukan muka gue,” celetuk laki-laki itu

“Emang muka gue yang gue coret-coret.”

Akala menerangkan satu soal untuk ia kerjakan, mencoret-coret pada buku di depannya.

“ Kenapa lo pinter banget?” tanya anya ketika akala berhasil mengerjakan satu soal dengan mudahnya.

“Ck, gue tuh ga pinter tapi gue rajin belajar.”

“Anya, di dunia ini tuh ada dua tipe orang, pertama dia emang pintar dari lahir dan kedua dia pintar karena rajin,” ucap akala.

“Tapi gue bukan keduanya,” balas anya yang membuat akala tersenyum.

Dan lagi-lagi anya tersihir oleh senyum itu.