ketahuan
Akala sudah berada di rumah anya, sudah mengajari anya dan tinggal memastikan perempuan itu paham apa yang ia jelaskan dengan memberikan anya soal untuk di kerjakan.
“Gue ke toilet bentar ya,” ucap akala sebelum dirinya pergi ke toilet.
Selama tadi belajar anya mencoba menetralkan jantungnya yang sembarangan lari marathon,
“Ga, gue ga boleh suka sama akala, oke b aja b aja b aja,” mantra yang ia ucapkan dalam hati sedari tadi.
Namun anya melihat di mejanya terdapat sebuah buku yang terbuka menampakkan tulisan dari sang pemilik buku.
Anya penasaran, mengambil buku itu, ia tutup, sampulnya berwarna biru seperti buku diary dan rasanya ia tidak punya buku itu.
“Jangan-jangan punya akala? Masa akala nulis diary?” pikir anya.
Rasa penasaran anya semakin meningkat, Anya kembali membukanya, lembar pertama berisi puisi, kedua, ketiga masih sama, sepertinya ini kumpulan puisi yang akala buat.
Tapi
Tunggu
Anya kembali membaliknya ke halaman pertama, kedua, dan seterusnya ada tanda pesawat kertas yang rasanya tidak asing bagi anya.
“Ah iya, puisi di mading,” terkanya.
“Jadi itu akala?” ucap anya masih tidak percaya.
Tidak lama setelah itu Akala datang menyambar buku yang dipegang anya dengan muka ditekuk, tidak suka barangnya dipegang orang lain.
“Eh sorry ga sengaja,” ucap anya
“Lain kali gausah kepo,” sembur akala
“Jangan sembarangan pegang barang gue,” tambahnya tidak suka.
“Ish ya maaf,” anya berdesis.
Akala menyimpan buku itu dalam tasnya dan anya kembali mengeluarkan pertanyaan, “Itu lo yang buat? Buat siapa sih?”
“Pasti beruntung banget orang yang lo suka itu.”
“Siapa sih?” tanya anya lagi
“Fanya ya?” tebak anya.
“Gue bilang gausah kepo.”
“Tapi gue penasaran.”
“Lanjut belajar atau gue pulang?”
“Lo pulang aja sana,” usir anya yang niatnya bercanda malah ditanggapi serius oleh akala.
Akala mengambil tasnya bersiap untuk pulang, “Yaudah gue pulang.”
“Ish gue bercanda.” Anya menarik lengan akala.