taruhan

Sepulang sekolah dan selesai mengurus mading beserta perintilannya, Anya bersama Akala menjemput Akila dirumahnya.

Sesampainya di rumah bercat abu-abu itu seorang gadis kecil muncul dari balik pintu mengenakan dress putih yang tampak lucu dikenakannya.

“Ih cantik banget sih,” ucap anya gemas mencubit pipi akila.

“Kaka juga cantik,” balas akila.

“Yaudah yuk jalan,” akala mengajaknya pergi karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore takut pulangnya kemalaman.

Hari ini cuaca sedang cerah, langit biru dan putih bercampur membentuk gradasi yang cantik.

Tiba di mall anya menggandeng tangan mungil akila menuju ke arah timezone. langkah anya terhenti, ia melihat kak jian bersama kak trisha.

“Kak kenapa?” cicit akila membuat akala menoleh melihat anya yang terdiam.

Akala mengikuti arah pandang anya, “Gausah dilihatin, ayo!” ajak akala menggandeng tangan anya.

Setibanya dia area timezone akila sudah menghamburkan dirinya pada medan perang itu, sedangkan akala dan anya berdiri di sekitarnya mengamati Akila takut hilang.

“Eh kita taruhan yuk,” ajak anya tiba-tiba.

“Taruhan apa?”

“Lo lihat itu,” Anya menunjuk seorang laki-laki dan perempuan seusianya yang tengan bermain claw machine atau mesin capit boneka.

“Kita taruhan, kalo cowok itu dapet boneka, gue bakal turutin apapun tiga permintaan lo,” jelas anya.

“Trus kalo ga dapet boneka?”

“Lo harus turutin tiga permintaan gue.”

“Apaan, nggak!” tolak akala karena besar kemungkinannya cowok itu tidak akan dapat boneka.

“Nggak adil dong, itumah udah pasti ga bakal dapet.”

“Ish ayo dong, cemen banget jadi cowok, cuma taruhan doang.” Anya memanasi akala.

“Yaudah kita liat aja.”

Laki-laki itu mulai memasukkan koin, mengarahkan pencapit dan hap

“Dapet.” Ujar akala ketika pencapit itu berhasil mencapit boneka.

“Tunggu dulu, siapa tau jatoh,” pekik anya percaya diri.

Dan boneka itu perlahan terangkat sampai masuk ke lubang keluar.

“Yesh gue menang haha,” tawa akala senang.

Anya bengong melihat akala tertawa lebar sampai giginya terlihat, “Lo ketawa?”

Kalian semua harus lihat akala ketawa, dunia harus tahu senyum akala adalah senyum tercantik yang pernah ia lihat.

“Eh barusan gue ngomong apa?” batin anya

Akala kembali menormalkan wajahnya lagi seperti kanebo kering.

“Lo harus turutin kemauan gue,” ujarnya mengingatkan anya.

Anya hanya memasang muka kesal, ia yang ngajaikin taruhan ia yang kalah.

“Gue kayaknya besok mau makan ayam deh,” ucap akala memberi kode.

“Oke nanti gue bawain ayam hidup.”

“Buatin gue bekel ya besok,” pintanya.

“Gausah aneh aneh gue ga bisa masak.”

“Katanya minta apa aja, tiga permintaan loh itu baru satu.”

“Ck, yaudah nanti gue tambahin racun di dalemnya mau?”

“Yaudah biar gue keracunan terus mati terus gentayangin lo.”