iseng?

Setelah menghabiskan batagor yang dipesan. Anya pergi meninggalkan kak Jian menuju ruang eskul jurnalis.

Waktu istirahat hampir habis, dengan langkah gontai dan malas ia berjalan ke ruang jurnalis yang berada di sebelah ruang pramuka.

Ruangannya tidak besar hanya sekitar 1,5mx1,5m dengan satu meja dan beberapa kursi.

Biasanya ketika rapat mereka lebih suka duduk lesehan di lantai atau mencari ruang kelas yang sudah sepi atau di koridor kelas.

Anya membuka pintu dan hanya ada Akala di dalam ruangan.

“Lo manggil gue?” tanya Anya menghampiri Akala.

“Ada apa?” tanya Anya lagi ketika sudah berada di samping Akala yang sedang menulis entah apa di kertas yang berantakan di meja.

Akala hanya menoleh melihat Anya berdiri di sampingnya.

“Siapa yang manggil?” Akala balik bertanya dengan raut muka datar.

“Gue gak manggil lo,” tambahnya.

“Hah! Ga manggil?” tanya Anya.

Anya kembali memastikan, “Tapi tadi ada adik kelas katanya gue disuruh kesini sekarang,” jelasnya.

“Iseng kali,” balas Akala.

”Serius lo gak manggil gue?” tanya Anya sekali lagi.

Akala hanya menggelengkan kepalanya dan kembali membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja.

“Ish awas aja kalo tuh anak kalo ketemu lagi,” gerutu Anya yang membuat Akala tersenyum tipis, sangat tipis hampir tidak kelihatan senyum.

“Pulang sekolah rapat,” ucap Akala mengingatkan Anya dan kemudian pergi meninggalkan Anya.

Melihat kelakuan Akala, Anya hanya mencebikan bibirnya kesal. Ia menyusul Akala yang pergi meninggalkannya sendirian.