Toko buku
Setelah menyelesaikan tugasnya piket, Aeris terburu-buru meninggalkan Resha dan Hana yang masih mengepel lantai.
“Ris,” panggil Resha yang melihat Aeris menaruh sapu dan mengambil tasnya.
“Buru-buru amat mau kemana sih?” tanya Resha yang mulai mengepel lantai.
“Gue sakit perut,” alibinya sambil memegang perutnya pura-pura menahan sakit. “Duluan gapapa kan?” tanyanya.
“Yaudah duluan aja deh,” ujar Resha.
“Tapi lo masih kuat jalan kan?” Hana bertanya. “Mau kita anterin ga?”
“Eh eh gausah, gue masih kuat kok,” tolak Aeris panik.
Setelah berhasil keluar kelas dan bebas dari dua temennya yang super kepo itu. Aeris segera melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ya hari ini ia akan pergi ke toko buku bersama Genta.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.40, Aeris menghampiri Genta yang duduk di motornya.
“Genta,” panggilnya.
Genta menoleh melihat Aeris menatapnya, ia mengenakan sweater peach yang menutupi seragamnya.
“Cantik,” batin Genta.
“Yuk,” ucapnya menyerahkan helm pada Aeris.
Tidak lama jarak dari sekolah ke toko buku, hanya sekitar 15 menitan. Dan kami sudah sampai di tempatnya.
“Lo cari buku apa?” tanya Aeris mengikuti langkah Genta yang memilih buku.
Sebenarnya Aeris ingin melangkah ke rak dimana ada banyak buku kesukaannya, namun ia tahan karena ia takut tidak bisa menahannya untuk tidak membeli.
“Lo ngga mau cari buku?” tanya Genta.
Aeris menggelengkan kepalanya lemah. “Ngga deh gue nemenin lo aja.” “Lo cari buku apa? Biar gue ikut nyari.”
“Tentang bisnis.”
“Lo mau kuliah di jurusan bisnis?” tanya Aeris penasaran.
“Emangnya kalo beli buku tentang bisnis, mau kuliah jurusan bisnis?”
“Hehe ngga juga,” kekeh Aeris.
“Yaudah gue bantu cari,” ucap Aeris semangat.
Aeris menelusuri rak rak yang awalnya mencari buku terkait bisnis ia malah sampai pada rak rak yang berisikan novel.
“Duh banyak banget novel terbaru,” ujarnya dengan mata berbinar.
Tangannya mulai gatal, ia mulai melihat-lihat dan membaca sinopsisnya. Mengambil dan kemudian ia kembali menaruhnya lagi.
“Cukup lihat Aeris,” batinnya. “Liat aja.” “Pokoknya nanti pulang harus minta ke ka aerin.” Tapi tangannya mengambil dua novel itu kembali, (novel dikta dan hukum sama tulisan sastra) kemudian menaruhnya lagi.
Genta yang sedari tadi memperhatikan Aeris, menghampirinya. “Gue udah ketemu,” ucapnya dengan dua buku di tangannya.
“Oh udah, yuk,” ajak Aeris.
Namun sebelum pergi ia mengambil dua buku yang tadi dipegang Aeris.
“Eh lo mau beli itu?” tanya Aeris.
“Buat adek gue.”
“Oh Lo punya adek?”
Genta tidak menjawabnya dan langsung menuju kasir untuk membayarnya.
Setelah itu keduanya pulang, Genta mengantar Aeris ke rumahnya. Rasanya cepat sekali sampai padahal Genta ingin berlama-lama dengan Aeris.
Di depan rumah Aeris, sepi seperti biasa. Aeris turun dari motor Genta, melepaskan helm dan menyerahkannya pada Genta.
“Rumah lo selalu sepi ya?” tanya Genta.
“Bokap nyokap gue kerja, terus kaka gue kuliah.”
“Lo mau mampir?” tawar Aeris.
“Ngga deh.”
“Oh iya nih,” Genta menyerahkan paperbag.
Aeris menerimanya, “Apa?” Aeris membukanya dan melihat dua novel yang tadi Genta beli ada didalamnya.
“Makasih udah nemenin gue hari ini,” ucapnya.
“Bukannya ini buat adek lo?”
“Gue ga punya adek, jadi buat lo aja.”