Pulang Bareng
Aeris berjalan dengan langkah gontai menelusuri lorong koridor yang sudah mulai sepi karena bel pulang sekolah sudah berbunyi 30 menit yang lalu.
Sesampainya di depan gerbang sekolah Aeris melihat Genta yang duduk di motornya, menunggunya.
“Genta, gue gapapa kok hari ini ga makan semangka,” ucap Aeris yang tidak di gubris oleh Genta.
Genta malah menyodorkan helm padanya, dan dengan spontan Aeris menerimanya.
“Eh gue pulang sendiri aja deh,” tolak Aeris dan kembali menyodorkan helm pada Genta.
“Naik,” pinta Genta mengabaikan ucapan Aeris.
Genta menstarter motornya, “Naik Ris,“ucap Genta kedua kalinya.
Aeris mematung tidak menanggapi ucapan Genta.
Genta menarik tangan Aeris agar mendekat padanya. Mengambil helm yang masih di tangan Aeris dan memakaikannya.
Aeris terkejut mendapat perlakuan Genta. “Naik Aeris,” ucap Genta sekali lagi dengan lembut setelah helm terpasang di kepala Aeris.
Sontak Aeris menuruti perintah Genta menaiki motor dan perlahan motor itu meninggalkan sekolah.
Genta membawa motor dengan kecepatan pelan, sangat pelan. Karena katanya takut Abang semangkanya kelewat.
“Kalo liat Abang semangka berhentiin gue,” ucap Genta yang masih bisa di dengar Aeris dengan jelas.
“Kayaknya udah ga ada deh, ini udah sore banget,” jawab Aeris.
“Langsung pulang aja lah,” pinta Aeris.
“Sambil liat liat kalo ada berhentiin gue,” ujar Genta.
“Oh iya rumah lo dimana?” tanya Genta.
“Jalan aja ntar gue arahin.”
Selama perjalanan pulang menuju rumah Aeris selama itu pula Abang tukang semangka bersembunyi alias tidak ada satupun penjual semangka.
“Dah, ini rumah gue,” ucap Aeris dan motor Genta berhenti di sebuah rumah sederhana bercat putih.
Aeris turun dari motor Genta, melepas helm, dan menyodorkannya pada Genta.
“Abang semangkanya ga ketemu,” ujar Genta.
“Gapapa, berarti besok double yah.” “Bercanda hehe,” lajut Aeris disertai kekehan.
“Yaudah gue masuk ya.”
“Lo hati-hati,” tambah Aeris.