Es krim

Pulang rapat semua sudah meninggalkan ruang OSIS hanya tersisa Aeris dan Genta di dalam ruangan.

Genta sedang merapihkan tasnya, menggunakan jaket hitam yang biasa ia kenakan.

“Genta,” panggil Aeris.

Genta menatap Aeris, “Kenapa?”

“Gapapa kan gue traktir es krim?” tanyanya.

“Gapapa Ris,” jawab Genta lembut.

Aeris yang sedari tadi memperhatikan Genta terkejut ketika Genta sudah ada di depannya.

“Ayo Ris,” ajak Genta.

“Ris,” panggil Genta dan Aeris masih dengan lamunannya.

“Aeris,” Genta memanggilnya lagi dan Aeris kaget.

“Eh, ayo,” ucapnya reflek sambil berdiri.

Keduanya berjalan keluar sekolah, lorong koridor sudah sepi karena jam sudah menunjukkan pukul lima sore.

Dari depan sekolah hanya tinggal menyebrang ia akan sampai minimarket. Karena letak minimarketnya berada di sebrang sekolah.

Aeris dan Genta berjalan beriringan, dan ketika hendak menyebrang Genta memegang pergelangan tangan Aeris.

Aeris terkejut, jantungnya mulai kurang ajar berlari dengan kecepatan penuh alias ia deg degan.

Langkahnya sampai depan minimarket namun Genta tetap memegang tangannya sampai masuk ke dalam minimarket.

“Genta,” Aeris memanggilnya.

Genta menoleh, “Kenapa Ris?”

Aeris menarik tangannya dari genggaman Genta.

“Eh sorry,” ucapnya ketika genggaman itu terlepas.

Aeris berjalan mendahului Genta menuju lemari es krim.

“Lo mau es krim apa?” tanya Aeris.

“Apa aja,” jawabnya.

“Suka matcha?”

“Suka.”

“Rasa matcha aja ya?” tawarnya.

“Boleh.”

Setelah membayar keduanya keluar dari minimarket itu.

Di teras minimarket itu ada kursi yang berjejer. Aeris dan Genta duduk dan menghabiskan es krim yang ia beli.

“Gue anterin pulang ya?” tawar Genta setelah es krim keduanya habis.

“Eh ga usah,” tolak Aeris.

“Gue ambil motor bentar,” ucapnya mengabaikan jawaban Aeris.

Genta kembali menyebrang, masuk dalam sekolah mengambil motornya.


“Tin ... Tin ...” Suara klakson motor Genta terdengar.

Aeris menghampirinya, “Ga usah Genta gue bisa pulang sendiri,” ucapnya lagi.

“Udah sore Ris,” ucap Genta melihat jam dipergelangan tangannya mengarahkan pukul 5.30

“Ayo,” ajaknya lagi dan Aeris mulai menaiki motor Genta.

Genta melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

“Gentaaa,” panggil Aeris dengan suara yang cukup keras agar bisa di dengar Genta.

“Apa?” Jawab Genta.

“Jangan ngebut,” ujarnya “Gue takut.”

“Pegangan makannya,” goda Genta.

Aeris memegang sisi jaket yang Genta kenakan. Namun Genta semakin menaikkan kecepatannya yang membuat Aeris refleks memeluknya.

Bibir Genta melengkung ke atas. “Ih sengaja banget pengen di peluk,” gerutu Aeris.

Aeris melepaskan pelukannya dan kembali berpegangan pada sisi jaket Genta.

Cukup dengan lima belas menit keduanya sampai di rumah Aeris.

Dan tepat ketika itu juga mobil papah Aeris tiba.

Aeris melepaskan helm, “Siapa Ris?” tanya papah Aeris.