Razia

Hari kamis pukul 9 pagi semua anggota OSIS berkumpul bersama guru BK. Hari ini akan diadakan razia, dadakan, biar semua kena katanya hehe

Semua anggota OSIS dibagi oleh guru BK untuk mengikuti arahan mereka memasuki kelas secara bergantian.

Aeris, Resha, Genta, Melvin mengikut Pak Ilham memasuki kelas XI IA 2.

Pak Ilham mulai mengarahkan siswa untuk meletakkan tasnya di atas meja. Dan OSIS membantu memeriksanya.

Sedang Pak Ilham berjalan memeriksa rambut siswa dan memotongnya tanpa ragu siswa yang rambutnya gondrong.

“Tas gue ga ada apa-apa,” jelas Janari menahan tasnya yang hendak di periksa Aeris.

Aeris memaksa membukanya, memeriksanya dan benar tidak ada apa-apa hanya ada satu buku dan satu bolpoint.

“Niat sekolah ga sih lo,” ucap Aeris sinis.

“Kalo ga niat gue ga ada disini.”

“Coba berdiri,” Aeris hendak memeriksa baju yang dikenakan Janari.

Janari berdiri mengikuti perintah Aeris.

Aeris memperhatikan Janari mulai dari rambut yang gondrong, yang pikirnya akan mendapatkan cukur gratis dari pak Ilham. Lanjut baju tidak terlalu ketat, oke. Celana juga ga ketat banget. Sepatu yang dikenakan berwarna biru.

“Gue cakep ya?” goda Janari melihat Aeris memperhatikannya.

“Lepas sepatu lo,” ucap Aeris.

“Aeris please,” Janari memohon.

“Gue abis olah raga,” alibinya. “Gue lupa ganti, please jangan diambil,” lanjutnya.

“Nanti gue ganti,” tambah Janari.

Aeris hanya menghela napasnya, yang kemudian melihat gesper yang dikenakan Janari dengan gambar tengkorak di tengahnya.

“Gesper lo,” ucap Aeris.

“Huft,” giliran Janari yang menghela napas. “Lihat aja lo.”

“Lepas,” pinta Aeris.

“Ris jangan please,” Janari memohon kembali.

“Lepas Janari!” ucap Aeris tegas. “Mau lo yang lepasin atau gue?” ancamnya.

“Lo aja deh,” Janari malah menggodanya.

“Kalo gue yg lepasin, sepatu lo juga gue ambil.”

“Elah Ris,” Janari terpaksa melepas gespernya.

“Gondrong ya?” Pa Ilham mendekati Janari.

“Eh Bapak hehe, Pak cukurnya nanti pulang aja boleh ga?” Janari bernego.

“Pulang sekolah saya cukur sendiri deh pak,” “Serius, saya janji,” imbuhnya.

“Sama bapak ajalah gratis sini.” Pak Ilham mulai mengeksekusi rambut Janari. “Selamat tinggal rambut kesayangan.”