Pah, Maafin Genta
Lutut Genta lemas, handphone yang ia pegang terjatuh. Dengan segala kekacauan dalam kepalanya, ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh menuju sebuah rumah sakit.
Setibanya disana sudah ada Tante jani yang menangis, mengatakan papah sudah tiada, papah meninggal.
Kaki Genta tidak mampu menopang tubuhnya, ia ambruk di lantai rumah sakit. Ia menyesali kebodohannya dengan terus membenci papahnya, ia meninggikan egonya sendiri dan menutup kata maaf untuk papahnya. Bahkan ia mengabaikan permintaan papahnya untuk bertemu. Ia menyesali semuanya.
Namun percuma, penyesalan itu akan tetap menghantui Genta karena sosok itu telah pergi menyusul mamahnya dan meninggalkan dirinya.
“Pah, maafin Genta.”