mading

Anya menghembuskan napas berat, “Kayaknya yang lain gak bisa deh,” ucap Anya.

“Pada sok sibuk banget semua,” lanjutnya.

Anya mengambil peralatan yang akan di tempel ke mading di laci meja.

“Minggir dong,” ucap anya karena akala berdiri di depan laci meja menghalanginya.

Setelah laki-laki itu menggeser tubuhnya, anya membuka laci mengambil bahan yang akan ditempel di mading.

“Ini udah semuakan? tinggal tempelin doang?” tanya Anya mengambil semua yang ada di laci.

Akala menganggukkan kepalanya, “Iya tinggal tempelin.”

“Oh tempelin doang berarti sendiri juga bisa ya,” gumam Anya.

Akala menoleh melihat Anya, “Ya gak bisa lah lo harus temenin,” jawabnya.

“Ish perasaan gue ga pernah gitu izin,” keluh Anya.

“Emang mau kemana?”

“Ya kemana aja.”

“Mau izin juga?”

Anya menganggukkan kepalanya.

“Yaudah.”

“Boleh?”

“Asal lo mau aja nanti kunjungan ke kantor redaksi sendirian.”

“Sialan emang nih orang,” umpat Anya yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.