kata siapa?

Rapat telah selesai Anya tengah membereskan alat tulisnya serta kertas-kertas yang berserakan di depannya yang berisi catatan hasil rapat.

Di sisi lain Arin, Ayana, Karin, Chandra dan bayu masih bergerombol ghibahin Akala. Padahal Akala masih satu ruangan dengan mereka.

“Mana buktinya, tadi Akala tetap ngomel meskipun jadian sama Fanya,” ucap Arin bisik-bisik.

“Jangan-jangan Akala ditolak lagi sama Fanya?” Bayu mulai berekspektasi ekstrem.

“Sama aja ngga sih jadian atau nggak, kan Akala emang hobinya suka marah-marah,” Ayana memberi pendapat.

“Akala sama mulutnya yang kayak boncabe udah melekat banget nggak sih sama Akala, udah jadi ciri khas Akala banget,” lanjut Ayana.

“Khas banget ya Na, kayak bunglon yang nempel dipohon melekat banget hampir nggak kelihatan,” canda Chandra receh yang garing.

“Apaan sih chan,” ucap Ayana.

Sebenarnya Akala bukan marah ia hanya ingin tegas pada semuanya. Akala hanya ingin semuanya berjalan sesuai rencananya karena sifatnya yang perfeksionis.

“Ada apaan sih ngomongin bunglon,” Juang ikut bergabung.

“Chandra katanya mau jadi bunglon,” ucap Ayana bercanda.

Juang tidak percaya, “Perasaan tadi lo bisik-bisik soal Akala, Akala kenapa?”

“Lo nggak tahu?” tanya Chandra.

Juang menggelengkan kepalanya.

“Akala jadian sama Fanya,” ucap Chandra.

“Hah? Serius?” ucap juang kaget. “Kok dia ga cerita sama gue?”

Juang melihat Akala berjalan di depannya hendak keluar dari ruangan.

“Akala,” panggil Juang.

Ayana, Karin Chandra dan bayu melotot mendengar Juang memanggil Akala.

Akala menoleh.

“Emang benar lo pacaran sama Fanya?” tanya juang yang membuat Ayana, Karin, Arin Chandra dan Bayu ingin mengubur Juang hidup-hidup.

Lagian kenapa mulut Chandra lemes banget udah tau Juang soulmatenya Akala.

“Kata siapa?” jawab Akala.