gibahin akala
Anya, Arin, Chandra, Bayu dan Karin seperti biasa sebagian anak tim redaksi itu tengah berkumpul di kantin mengisi perutnya yang kelaparan.
“Eh, kalian sadar ga sih akhir-akhir ini akala jarang marah-marah,” ucap Karin memasukkan pentol bakso ke mulutnya.
Chandra yang berada di sebelahnya mengangguk setuju, “Iya, gue liat juga begitu.”
“Apaan gue kena semprot kemarin gara-gara ga beresin ruang jurnalis,” protes bayu.
“Ya lagian lo emang salah,” balas anya.
“Dia marah juga ada alasannya bay,” tambah anya yang membuat semua orang di meja itu menatap Anya heran seolah berkata “WHAT LO BELAIN DIA NYAA!”
Anya yang ditatap balik bertanya, “Kenapa?”
Arin disamping anya menempelkan punggung tanggannya pada dahi anya, “Ga panas.”
“Ish apaan sih,” Anya menepis tangan Arin.
“Boleh gabung ga?” suara itu membuat semuanya menoleh, dia Akala bersama Juang di depan mejanya.
Teman-teman anya melotot seakan meminta anya menolaknya.
“Gabung aja,” jawab anya.
Semuanya menjadi canggung karena sedari tadi mereka sedang ngomongin akala.
“Kok diem? Lanjutin aja ngobrolnya,” ucap akala duduk di sebelah anya.
“Ya kali lanjut ngomongin lo,” chandra membatin.
Juang bertanya, “Lagi ngomongin apa sih, tadi kayaknya seru banget?”
“Ngomongin temen lo tuh,” batin Chandra.
“Oh tadi ngomongin abis ulangan fisika,” jawab chandra
“Oh ulangan.”
“Lo bisa ngerjain ulangannya?” tanya akala pada anya.
Anya berpikir sejenak kemudian menjawab, “Bisa, dikit.”
Semuanya kembali memakan makanannya diselingi pertanyaan-pertanyaan konyol dari Chandra.
“Kemarin gapapa?” bisik akala.
Anya tidak paham namun beberapa saat ia mengerti, “Oh, gapapa.”
“Mata lo dikompres?”
“Hah?” Anya tidak mengerti.
“Ga keliatan abis nangis,” ledek akala bisik-bisik.
“Gue ga nangisin dia,” elak anya.
Melihat anya yang bisik-bisik dengan akala, Karin penasaran, “Eh kalian berdua bener pacaran ya?”
“Kita?” tanya akala menunjuk dirinya.
Karin mengangguk dan dijawab akala santai, “Iya.”
“Akala!” Panggil anya marah.
“Kenapa? benerkan kita pacaran?” tanyanya polos.
“Ish taulah,” Entah kenapa anya merasa malu.