Digigit gorilla

Dengan muka masam anya mambawa buku bergabung bersama akala di bawah.

“Kenapa?” tanya laki-laki itu melihat penampilan anya yang kacau, mata sembab, hidung merah, dan jangan lupakan rambutnya yang awut-awutan.

Perempuan yang ditanyai itu duduk, “Gapapa,” jawabnya terdengar sebaliknya.

“Lo abis nangis?” tanya akala lagi.

“Ga.”

“Mata lo kek abis digigit gorilla,” ujar akala niat menghibur anya namun perempuan itu tidak meladeni akala dan membuka buku matematika.

Akala mengerti anya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja langsung mengajarinya.

“Paham ga?” tanya akala setelah menjelaskan panjang lebar.

Perempuan itu malah bengong dan baru tersadar ketika akala menyentuh bahunya.

“Ck! lo dengerin gue gak sih?” Akala berdecak kesal, pasalnya buat apa dia menjelaskan panjang lebar kalau pikiran perempuan yang diajarinya itu entah berada dimana.

“Denger kok.”

“Yaudah coba kerjain tuh soal.”

“Ah, gue ga mood belajar,” keluh perempuan itu menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya di meja.

“Harusnya bilang aja daritadi, gue ga perlu ngoceh sendirian sampe berbusa,” sindir akala.

“Udahan aja kali ya?” tanya akala

“Jangan, ntar mamah ngomel.”

“Percuma anya belajar juga ga akan masuk di otak lo kalo lo lagi ga fokus.”

“Iya gue dengerin, gue fokus, mana yang harus dikerjain?”