dia?
Bel rumah Anya berbunyi sekali, Anya belum beranjak dari sofanya.
Dua kali, masih sama Anya mengabaikannya.
Tiga kali. “Dek coba itu bukain pintu,” ucap papah yang sedang membaca koran di samping Anya.
Anya yang sedari tadi menggonta-ganti chanel televisi berdiri membukakan pintu.
Didepan pintu, Anya memegang gagang pintu dan kemudian pintu terbuka.
Anya mendapati Akala di depannya.
“Lo ngapain disini?” tanyanya kaget.
Anya mulai merasakan keanehan, jangan bilang tutor cowok yang masih muda yang papah maksud itu dia, dia Akala?
“Gak, gak mungkin dia” batinnya menolak.
Akala sedari tadi diam memperhatikan Anya yang menatapnya entah memikirkan apa yang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Benerkan ini rumah pak arif,” tanya Akala memastikan.
“Anya!” Panggilnya karena Anya tidak menjawab.
“Eh sudah datang, masuk Akala,” sambut papah Anya yang ikut berdiri di samping pintu.
“Ini tutornya dek,” jelas papah yang membuat Anya terkejut.
“Hah tutor?”ujarnya kaget.
“Jadi, tutor yang papah maksud itu dia?” Anya memastikan lagi dan dijawab dengan anggukan kepala papahnya.
“Pah Akala temen seangkatan Anya,” rengeknya seakan meminta untuk mengganti tutornya.
Anya tidak dapat membayangkan gimana kedepannya Akala mengajarinya, auto dimarahin tiap ngga bisa jawab.
“Oh iya? makin mudah dong ya, sekalian aja belajar bareng,” jawab papah yang semakin membuat Anya meringis.
“Pah beneran dia?” Tanya Anya lagi.
“Dia pintar kok, papah pilih dari tempat les, dia mengajar juga di sana, katanya pinter dalam bidang sains terutama mtk, dia juga juara olim kan?”
“Iya tapi-“
“Ga ada tapi-tapian Anya, udah masuk, siapin belajar.”