cie akala

“Berantem lagi lo?” tanya Akala pada juang yang sudah rebahan di kasurnya.

Sahabatnya itu memang selalu menginap dirumahnya tiap kali berantem dengan papahnya.

“Kenapa sih dia tuh selalu mentingin dirinya,” ucap Juang mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk.

“Ga pernah gitu sekali tanya apa mau gue?”

Akala yang duduk di meja belajarnya menoleh “Kenapa lagi?”

“Biasa, gue disuruh masuk hukum, belajar, belajar, belajar,” jelasnya.

“Padahal gue ga mau jadi kaya dia, pengacara yang lebih mentingin uang daripada kliennya.”

Akala bangun dari kursi menuju kasurnya.

“Akala, kadang gue iri sama lo, lebih baik punya ibu aja dari pada punya papah serius deh,” ujar juang.

“Jangan gitu lo,” sahut akala.

Akala menyerobot bungkus kuaci yang sedang juang makan, “Lo ngapain beli kuaci sih?”

“Jangan buang sembarangan kulitnya.”

Juang hanya berdecak, “Iyaa,” Juang kemudian mengumpulkan kulitnya yang berceceran.

“Lo beneran pacaran sama fanya ya?” tanya juang.

“Kok ga cerita sih.”

“Siapa sih yang bilang gitu,” balas akala.

“Eh rumor lo sama dia tuh udah harum disekolah,” ucap juang menyadarkan akala.

“Ya, tapi itu ga bener,” sanggah akala.

“Lo ga pacaran?” tanyanya lagi.

“Ngga lah”

“Lo tuh homo ya? Sama gue mulu jadinya.”

“Gue normal kali,” akala tidak terima dikatai seperti itu.

“Perasaan lo ga pernah gitu cerita tentang cewek sama gue.”

“Ya karena gue ga suka siapa-siapa.”

“Heleh bacot,” juang melempar kulit kuaci pada muka akala.

“Ish, belum suka, mungkin.”

“Hah? Ada incaran lo?” Juang kaget.

“Ga ada,” bantah akala.

Namun juang tidak percaya, “Siapa?”

“Ga ada.”

“Cieee telinganya merah.”

“Ck, pulang lo sana.”

“Cieee akala.”